Mohon tunggu...
Duta Aulia
Duta Aulia Mohon Tunggu... Jurnalis - Pekerja.

Mata dua mulut satu.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Kebudayaan hingga Ekonomi Global Tak Luput dari Hantaman Virus Corona

4 Maret 2020   16:16 Diperbarui: 4 Maret 2020   16:20 342
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

Awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan virus corana jenis baru atau secara resmi oleh WHO disebut sebagai Covid-19. Virus yang awalnya mewabah di Wuhan China cukup menyita perhatian berbagai negara di dunia. 

Melansir Reuters, virus tersebut tidak begitu mematikan jika dibandingkan dengan kerabatnya, seperti MERS ataupun SARS. Jika dilihat secara statistik, sumber tersebut menyebutkan skala kematian dari Covid-19 hanya sebesar 2,2% atau bisa dikatakan dari 50 orang yang menderita penyakit tersebut hanya 1 orang yang memiliki kemungkinan meninggal.

Berdasarkan usia, Statista mengatakan, tingkat kematian dari Covid-19 lebih didominasi oleh seseorang yang berusia di atas 80 tahun. Selain itu, untuk seseorang yang berusia 60 sampai 79 tahun angka kematian akibat virus tersebut masih tergolong tinggi.

Meskipun begitu, tingkat penyebaran virus corona / Covid-19 cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, dalam kurun waktu 2 bulan semenjak ditemukan, virus tersebut telah menyebarkan hampir ke berbagai belahan dunia.

Bukan hanya dapat menyerang kesehatan setiap orang, virus tersebut juga sukses menghantam perekonomian. Bloomberg Economics dalam rilisnya pada Februari 2020 mencatat, akibat Covid-19,  Hong Kong menjadi yang paling merasakan dampak penurunan pertumbuhan ekonomi.

Sumber tersebut mengatakan, pada 2020, Hong Kong mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,74%. Selain karena Covid-19, anjloknya pertumbuhan ekonomi Hong Kong juga disumbang oleh kondisi politik yang sedang tidak stabil dengan ditandai maraknya aksi demonstrasi.

Selain Hong Kong, Korea Selatan juga diprediksi mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,40% dan disusul oleh Brasil yang mencapai 0,32%. Sementara untuk skala yang lebih besar, sumber tersebut memprediksi penurunan pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami penurunan mencapai 0,41%.

Senada dengan sumber tersebut, Presiden Bank Dunia, David Malpass mengatakan, Covid-19 yang telah menewaskan ribuan orang di China menjadi ancaman tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi global.

Malpass mengungkapkan, dalam perdagangan China banyak komoditas yang dikirim ke seluruh dunia memanfaatkan pesawat komersial.

Ia mencontohkan, saat Covid-19 menyebar, maskapai di seluruh dunia telah menangguhkan penerbangan ke dan dari China. Bahkan, ada negara-negara tetangga yang telah menutup perbatasan mereka agar terhindar dari Covid-19.

Benar saja, TrenForce Februari 2020 menyebut, Covid-19 sukses menghantam industri elektronik China. Secara spesifik, TrendForce merincikan, untuk produksi jam pintar mengalami penurunan pengiriman produk mencapai 16%.  Sementara itu, untuk Notebook mengalami penurunan hingga 12,3% dan ponsel pintar mencapai 10,4%.

Pengaruhi kebudayaan 
Selain memberikan dampak pada ekonomi, Covid-19 juga sukses pengaruhi sektor kebudayaan.

Seperti yang diberitakan oleh Kompas.id, Bejing sebagai ibu kota China, masyarakat di sana diperingkatkan dengan menggunakan pengeras suara agar tidak berjabatan tangan. Bahkan, mereka diminta menyatukan telapak tangan mereka sendiri sebagai tanda salam. Selain itu, warga juga diminta melakukan gerakan gong shou tradisional, yakni kepalan tangan di telapak tangan yang berlawanan untuk menyapa.

Perubahan kebudayan tersebut bukan hanya terjadi di China. Namun beberapa negara seperti Spanyol, Romania, dan Polandia juga mengalami sedikit perubahan kebudayaan.

Di Spanyol, kebudayaan mencium patung-patung Santa Maria selama Pekan Suci menjelang Paskah harus dilakukan dengan cara berbeda. Pemerintah setempat menghimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan ritual mencium patung Santa Maria dengan tujuan untuk membendung penyebaran Covid-19.

Bergeser ke Romania, di negara tersebut terdapat sebuah festival yang bernama Martisor di mana para pria biasanya memberikan gelang talismanic dan bunga kepada perempuan. Selain memberikan kedua barang tersebut, dalam festival ini juga diiringi dengan ciuman sebagai tanda rasa sayang kepada lawan jenis.

Berkaitan dengan maraknya penyebaran Covid-19, pemerintah setempat menghimbau agar selama festival tersebut, pria hanya menyerahkan bunga tanpa disertai dengan ciuman.

Sementara itu, himbauan terkait pencegahan Covid-19 juga dilakukan di Polandia. Menjadi salah satu negara Katolik di Eropa, Polandia meminta umat yang ke gereja diizinkan menerima komuni atau hosti dengan menadahkan tangan, tidak langsung diterima melalui mulut.

Selain itu, umat juga diminta tidak mencelupkan tangan mereka ke dalam air suci ketika masuk dan keluar gereja. Sebagai gantinya, umat cukup membuat tanda salib.

Menyikapi hal tersebut, lantas bagaimana dengan di Indonesia? 

Pemeriksaan suhu tubuh untuk mencegah penyebaran Covid-19 (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN).
Pemeriksaan suhu tubuh untuk mencegah penyebaran Covid-19 (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN).
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi penyebaran dan dampak Covid-19. Dari segi kesehatan, pemerintah yang dibantu oleh berbagai pihak begitu gencar untuk mengkampanyekan cara pencegahan virus tersebut hingga melakukan isolasi terhadap pasien Covid-19.

Dari sektor perbankan, dalam antisipasi dampak Covid-19, Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuannya atau BI-7Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Dikutip dari Kotan, penurunan sebesar 25 bps juga terjadi pada suku bunga Deposit Facility menjadi 4% dan suku bunga Leading Facility menjadi 5,5%.

Menurut, Gubernur BI Perry Warjiyo, pada Kamis (20/2) lalu mengungkapkan, langkah tersebut dipilih guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya perbaikan prospek ekonomi global tahun 2020 akibat munculnya Covid-19.

"Kebijakan moneter tetap akomodatif dan persisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali, kondisi eksternal yang aman, serta sebagai langkah preemptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya perbaikan prospek ekonomi global tahun ini akibat munculnya virus Covid-19," kata Perry dikutip dari Kotan.  

Sektor pariwisata 
Sebelum Covid-19 menyebar ke berbagai negara, melalui Kementerian Keuangan, Pemerintah Indonesia memiliki target terdapat pemasukan negara di sektor pariwisata tahun 2020.

Adapun target tersebut berupa, kunjungan wisatawan domestik yang ditargetkan 312 juta orang, wisatawan mancanegara 18,5 juta orang, tenaga kerja pariwisata 13 juta orang, devisa 21 miliar USD, dan pariwisata memberikan kontribusi PDB nasional sebanyak 4.8%.

Melihat kondisi saat ini, di mana wabah Covid-19 terus menyebar, rasanya Pemerintah Indonesia harus ekstra bekerja keras agar target tersebut dapat terpenuhi.

Bukan hanya itu, penutupan sementara penerbangan dari dan menuju Tiongkok juga memberikan dampak tersendiri bagi sektor pariwisata Tanah Air. Pasalnya wisatawan asal Tiongkok menjadi salah satu wisatawan mancanegara terbesar yang mengunjungi Indonesia. Atas hal tersebut, Indonesia terancam kehilangan devisa pariwisata hingga 4 miliar USD.

Selain menghantam sektor pariwisata, menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dampak turunan dari Covid-19 juga dirasakan pada lini Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama pada unit usaha makanan dan minuman.

Jangan panik
Meskipun Covid-19 sukses memberikan dampak negatif hampir berbagai lini kehidupan, masyarakat dihimbau untuk tidak panik dalam menghadapi wabah tersebut.

Dikutip dari Kompas.com, berdasarkan data real time yang dikumpulkan oleh John Hopkins University per Selasa (3/3/2020) pukul 18.06 WIB, jumlah kasus terkonfirmasi di seluruh dunia mencapai 91.113 kasus.

Dari jumlah kasus tersebut, tercatat 3.118 mengalami kematian dan 48.134 pasien dinyatakan sembuh. Sementara itu, sumber tersebut juga menyebutkan, presentase angka kesembuhan terhadap penyakit tersebut mencapai 52,7%.

Meskipun di atas 50%, sumber tersebut mengatakan ada di beberapa negara yang memiliki tingkat kesembuhan mencapai 100%.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun