Mohon tunggu...
Doctore
Doctore Mohon Tunggu... Auditor - Nama asli bukan gelar Wkwkw

Ala kadarnya saja

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Prof dr Abu Hanifah: Profil Singkat Si Dokter Rimbu

27 Desember 2019   16:20 Diperbarui: 27 Desember 2019   16:25 71
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Prof. dr. Abu Hanifah | wikimedia.org

Negara Indonesia pada awal kemerdekaan memiliki segudang tokoh dengan pemikiran yang tak kalah oleh tokoh-tokoh besar dunia. Bila mendengar nama Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, KH Agus Salim masyarakat Indonesia sudah tidak asing dan setuju bahwa nama-nama besar ini memiliki kontribusi besar untuk Republik tercinta ini. 

Diantara sederetan nama besar ini pernahkah anda mendengar nama Abu Hanifah? Bukan seorang Imam Besar Fiqih umat Islam, namun putra asli Minangkabau yang turut berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Prof. dr. Abu Hanifah dt. Maharaja Emas atau biasa disapa dengan dr. Abu Hanifah merupakan seorang pejuang perintis kemerdekaan dan tokoh nasional yang namanya cukup di perhitungkan dan dikenal pada masanya sebagai aktifis Kongres Pemuda sebelum perang meletus.

 Ayah dua orang putra yang lahir di Padang Panjang, 6 Januari 1906 ini juga terkenal sebagai politikus, filusuf, sastrawan dan seniman serta aktif menulis buku dengan nama pena El Hakim. Diantara buku yang telah dia tulis ; Dokter Rimbu, Dewi Rheini, Indonesia meu paese (Indonesia negaraku), Conflict in the Pacific, dan master piece karyanya The Tales Of Revolution.

dr. Abu Hanifah digambarkan selalu ingin tahu banyak hal. Tak puas hanya sekadar tahu, tapi harus mahir layaknya professional dalam bidang itu. Seperti ketika dia tertarik dengan lukisan, maka dia berguru pada pelukis terkenal bernama Bonet. Karena berbagai keahlian yang di milikinya, ia memperoleh berbagai  penghargaan dan gelar dari pemerintah RI maupun negara-negara sahabat. 

Kawan dekat Moh. Yamin sewaktu bersama jong sumatranen ini adalah salah satu saksi bersejarah sumpah pemuda 28 oktober 1928 yang diprakarsai pemuda-pemudi seantero Nusantara untuk menjelma sebagai satu kesatuan yang kelak kita kenal dan gunakan sampai saat ini, Indonesia.

Prof. Dr. Abu Hanifah yang juga merupakan salah satu pendiri partai Masyumi ini memiliki enam saudara kandung, dua diantaranya menjalani hidup sebagai seniman. Sebut saja Usmar Ismail bapak perfilman Indonesia serta Nursiah Dahlan penulis cerita anak dengan karya terkenalnya "Jenderal Kancil". Meskipun pada zaman sekarang nama dr. Abu Hanifah tidak sering terdengar seperti kawan-kawan seangkatannya yang lain, namun pemikiran dan jasa beliau dalam perjuangan untuk Indonesia besar serta diaplikasikan dalam kemasan nyata, seperti cita-citanya sebagai dokter bertangan dingin yang selalu sukses menangani pasiennya ketika bertugas di Teluk Kuantan (yang tertuang dalam buku Dokter Rimbu).

(Sumber: Prof. dr. Abu Hanifah dt.ME: karya dan pengabdian, 1985)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun