Mohon tunggu...
Drul Arifin
Drul Arifin Mohon Tunggu... -

im juventino

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sapere Aude vis-a-vis Group Think Theory  

4 Juni 2015   01:35 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:22 8
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

 

Pernahkan anda terdiam dalam forum diskusi, musyawarah atau kepanitiaan? Entah itu karena sungkan, tidak berani atau takut dalam mengeluarkan pendapat anda. Padahal dalam hati anda ingin sekali berbicara dan mengeluarkan uneg-uneg.

Ya,  Penulis acapkali menemui fenomena seperti itu.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa sering sekali fenomena itu terjadi disekitar kita? Hal ini terjadi karena dalam forum yang sifatnya berisi sekelompok individu yang sedang merumuskan sesuatu, cenderung didominasi oleh sekelompok minor yang bersuara mayor, disisi lain ada sekelompok mayor yang berusara minor atau bahkan tidak bersuara sama sekali. Fenomena seperti ini lazim disebut sebagai Group Think Theory.

Teori ini lahir dari buah pemikiran Irving L. Janis. Ia menggunakan term ‘Groupthink’ sebagai fenomena berpikir irrasional sekelompok orang yang sifatnya ‘mengamini’ pendapat individu/ sekelompok orang lain yang mendominasi--yang mana pendapat kelompok individu yang mendominasi nantinya akan dijadikan sebagai keputusan yang menjadi representasi atau hasil konsensus dari kelompok tersebut.

Janis juga menyebutkan bahwa tidak sedikit keputusan atau konsensus dari yang dibuat secara group think ini berlawanan dengan idealisme anggota kelompok yang ‘mengamini’ tadi. Berkaca pada apa yang dikatakan Janis, menurut penulis, konsensus yang dihasilkan dari suatu kelompok sebenarnya bukan benar-benar konsensus, namun disensus yang diarahkan oleh kelas yang mendominasi kearah konsensus.

Menurut Janis. Gejala group think disebabkan oleh beberapa syndrom. Pertama adalah syndrom kekebalan diri (illusion of invulnerabillity syndrom’s), dimana pada situasi ini ada sebuah individu/sekumpulan individu dalam suatu kelompok merasa lebih pintar dari anggota kelompok lain. Kedua adalah syndrom ilusi anomitas dimana pada situasi ini  ada sebagian individu yang ragu dengan keputusan yang diambil oleh kelompoknya namun ia tidak cukup berani untuk mengungkapkan argumennya. Hal ini terjadi karena tekanan-tekanan yang diberikan oleh sekelompok individu yang mendominasi suatu kelompok.

Fenomena group think sudah sepatutnya dijauhkan dari kelompok-kelompok yang sedang berunding untuk mengambil keputusan. Pasalnya fenomena ini berimplikasi pada pengambilan keputusan yang sifatnya irrasional. Karena individu/sekumpulan individu yang mendominasi secara sadar atau tidak sadar telah menegasikan rasionalitas anggota/individu lain dalam kelompok.

Suatu individu yang mempunyai argumentasi atau rasionalitas yang berbeda dengan argumentasi yang mendominasi sudah seharusnya ‘membangkang’ dan berani untuk mengeluarkan rasionalitasnya. Jangan diam dan mendiamkan, karena tidak baik pada  kelangsungan kelompoknya, pasalnya keputusan yang dihasilkan kelompok tersebut cenderung ‘dipaksakan’. Selain itu diam dan mendiamkan juga akan berefek pada ‘kebaperan’ dalam individu tersebut, ia akan uring-uringan, pusing tujuh keliling karena merasa menghianati idealismenya sendiri.

Lantas apa yang harus dilakukan kemudian?

Sapere Aude! Kata Immanuel Kant. Setiap individu harus berpikir secara mandiri. Jangan gampang terbawa arus yang ada. Jika punya argumentasi ataupun pendapat yang berbeda dengan kelompokmu. Ada baiknya disampaikan. Tak masalah jika argumentasimu di akomodir atau tidak. Setidaknya anda telah memiliki keberanian untuk mengemukakan isi dari pikiran anda.

Keberanian dalam mengemukakan suatu gagasan inilah yang di apresiasi oleh Immanuel Kant. Menurut Kant kunci dari pencerahan akal budi adalah berani berpikir bebas. ‘Sapere Aude! Milikilah keberanian untuk menggunakan pengertian anda sendiri’. Melalui esai ini Kant juga mematahkan anggapan bahwa untuk menggunakan pikirannya sendiri, suatu individu harus lebih tahu dan pintar terlebih dahulu, bahwa untuk berpikir bebas dan merdeka anda tak perlu jadi ketua organisasi, kuliah s2 diluar negeri, dosen atau pintar filsafat terlebih dahulu. Socrates pernah bilang bahwa manusia adalah mereka yang mau berpikir.

Diperlukan suatu keberanian lebih memang dalam mengimplementasikan doktrin ‘Sapere Aude’, apalagi jika doktrin ini dihadapkan pada individu yang terbiasa dalam budaya nrimo bin manut. Ya, bagaimana lagi ‘berani’ sudah merupakan harga mati. Pasalnya, keberanian merupakan hal yang fundamental untuk melakukan counter hegemoni terhadap pemahaman yang mapan/dominan.

Tak usah anda pedulikan mereka yang diam dan mendiamkan ketika fenomena group think terjadi. Mereka yang tidak berani berpikir bebas dan merdeka, dan tergantung atau manut terhadap keputusan mayoritas, menurut Kant adalah seorang yang pemalas dan pengecut. Jangan hanya jadi ikan mati yang akan hanyut terbawa arus. Jadilah karang yang tetap tegar walaupun arus dan gelombang terus menghantam.

Referensi

Janis, I. L. (1982). Groupthink: Psychological Studies of Policy Decisions and Fiascoes. Boston: Houghton Mifflin.

 

Russell,Betrand.2002.Berpikir ala Filsuf .terj,Basuki Heri Winarno. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun