Jangan lewat jalan ini !
Begitu kata Kepala kampung tadi pagi
Dan  kemarin di depan gang ini
Juga pagi selumbari
Kepala kampung marah pada truk-truk besar
Yang membawa pasir juga batu-batu kasar
Menderu tanpa terpal walau selembar
Menerbangkan debu tersebar-sebar
Tanpa peduli truk terus  berarak
Tak sadar banyak meninggalkan serdak
Menyisakan gerutu, maki juga bentak
Menyesakkan dada yang terbatuk bahkan tersedak
Jangan lewat jalan ini !
Begitu kata kepala kampung lagi
Pada mandor yang menatap penuh arti
Walau kepala kampung  tak suka teka- teki
Kalian hanya merusak jalan kami
Yang kami perlukan setiap hari
Lihatlah rusak di sana  sini
Tak kuat menahan beban truk yang penuh terisi
Mandor bertutur sopan
Bahwa ia tak punya pilihan
Bahwa ia hanya melakukan pekerjaan
Pada seseorang yang dipanggilnya tuan
Truk besar pengangkut bahan
Untuk proses pembangunan
Sejumlah gedung untuk hunian
Bagi mereka yang berstatus hartawan
Mandor meminta sekedar pengertian
Bahwa ia tengah mencari makan
Bagi keluarganya agar tak kelaparan
Juga supaya  tak kekurangan
Kepala kampung menatap nyalang
Kesabarannya mulai hilang
Kepala kampung memanggil warga yang malang
Untuk bersama mengakhiri truk petualang
Warga memasang berderet batu
Bertumpuk tinggi bagai pintu
Jalan pun seketika menjadi buntu
Bagai mertua menolak calon menantu
Mandor tak juga kendor
Sore ia datang  sendiri tanpa menggedor
Kali ini ia adalah negosiator
Tawarkan kerjasama kotor
Terulur sampul tebal tak besar
Serta untaian kalimat manis pengantar
Kepala kampung bimbang mulai tergetar
Kepala menyusun pembenaran liar
Sampul tergeletak di meja seolah tak ada
Mandor pergi dengan tertawa
Kepala kampung tak lagi murka
Senyumnya bahkan bersahaja
Hari ini truk-truk lewat lagi
Benteng batu tak lagi berdiri
Kepala kampung  membuat warga mengerti
Bahwa ini bukan jalan pribadi
Truk-truk boleh lewat kembali
Dengan ikatan sebuah kompromi
Truk berjalan lebih hati-hati
Tanpa tebar debu di sana sini
Warga yang polos  mengangguk setuju
Menerima dalam pikiran yang lugu
Kepala kampung pulang dan menutup pintu
Menghitung isi sampul ratusan ribu.
                                       Borneo,  2021
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI