Mohon tunggu...
Dream_Praire
Dream_Praire Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca, menulis

Merancang perjalanan dan mencoba menjalani rancangan

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Jangan Lewat Jalan ini!

26 Oktober 2021   22:15 Diperbarui: 26 Oktober 2021   22:45 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi blokade jalan/Pixabay-Hans

Jangan lewat jalan ini !

Begitu kata Kepala kampung tadi pagi

Dan  kemarin di depan gang ini

Juga pagi selumbari

Kepala kampung marah pada truk-truk besar

Yang membawa pasir juga batu-batu kasar

Menderu tanpa terpal walau selembar

Menerbangkan debu tersebar-sebar

Tanpa peduli truk terus  berarak

Tak sadar banyak meninggalkan serdak

Menyisakan gerutu, maki juga bentak

Menyesakkan dada yang terbatuk bahkan tersedak

Jangan lewat jalan ini !

Begitu kata kepala kampung lagi

Pada mandor yang menatap penuh arti

Walau kepala kampung  tak suka teka- teki

Kalian hanya merusak jalan kami

Yang kami perlukan setiap hari

Lihatlah rusak di sana  sini

Tak kuat menahan beban truk yang penuh terisi

Mandor bertutur sopan

Bahwa ia tak punya pilihan

Bahwa ia hanya melakukan pekerjaan

Pada seseorang yang dipanggilnya tuan

Truk besar pengangkut bahan

Untuk proses pembangunan

Sejumlah gedung untuk hunian

Bagi mereka yang berstatus hartawan

Mandor meminta sekedar pengertian

Bahwa ia tengah mencari makan

Bagi keluarganya agar tak kelaparan

Juga supaya  tak kekurangan

Kepala kampung menatap nyalang

Kesabarannya mulai hilang

Kepala kampung memanggil warga yang malang

Untuk bersama mengakhiri truk petualang

Warga memasang berderet batu

Bertumpuk tinggi bagai pintu

Jalan pun seketika menjadi buntu

Bagai mertua menolak calon menantu

Mandor tak juga kendor

Sore ia datang  sendiri tanpa menggedor

Kali ini ia adalah negosiator

Tawarkan kerjasama kotor

Terulur sampul tebal tak besar

Serta untaian kalimat manis pengantar

Kepala kampung bimbang mulai tergetar

Kepala menyusun pembenaran liar

Sampul tergeletak di meja seolah tak ada

Mandor pergi dengan tertawa

Kepala kampung tak lagi murka

Senyumnya bahkan bersahaja

Hari ini truk-truk lewat lagi

Benteng batu tak lagi berdiri

Kepala kampung  membuat warga mengerti

Bahwa ini bukan jalan pribadi

Truk-truk boleh lewat kembali

Dengan ikatan sebuah kompromi

Truk berjalan lebih hati-hati

Tanpa tebar debu di sana sini

Warga yang polos  mengangguk setuju

Menerima dalam pikiran yang lugu

Kepala kampung pulang dan menutup pintu

Menghitung isi sampul ratusan ribu.

                                                                              Borneo,   2021

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun