Tanpa saya sadari, LDL sudah menggerogoti kualitas hidup saya sejak lama. Jangan ikuti jejak saya ini teman-teman, segera lakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk menghindari bahaya penyumbatan jantung.
Lantas apa kata data HDL. Ternyata data HDL, juga hampir seluruhnya di bawah kadar normal yaitu dibawah 40 mg/dL, kecuali data HDL pada tahun 2007, dan tahun 2012 yang masing-masing 44 dan 42 mg/dL.
Rendahnya kadar HDL juga ikut mengancam hidup saya, karena sebetulnya, HDL bertugas mengembalikan LDL yang berlebih dalam darah ke organ hati, untuk diubah menjadi komponen lain yang berguna buat tubuh.
Dengan rendahnya HDL dalam darah, maka LDL tidak dibawa ke hati, tetapi tetap beredar di dalam aliran darah. Dengan demikian, maka tingkat penyumbatan arteri jantung saya berpotensi menjadi semakin parah.
Tingginya LDL, dan rendahnya HDL ibarat dua mata pedang pengintai, dan pengancam kualitas hidup saya. Lantas bagaimana dengan data trigeliserida darah saya.
Data trigeliserida pun sama saja, bahkan lebih parah dari data LDL, dan HDL darah saya. Selama 16 tahun dari tahun 2002-2018, kadar trigeliserida darah, semuanya diatas kadar normal 150 mg/dL. Kenapa berbahaya?
Karena menurut American Heart Association (AHA), trigeliserida yang tinggi dalan darah akan menyebabkan arteri jantung semakin rapuh, semakin kaku, sehingga semakin mudah pecah. Menakutkan...... sekarang ada tiga mata pedang LDL, HDL, dan trigeliserida yang mengancam hidup saya.
Data total kolesterol pun sama mengancamnya, semua data dari 2002-2016, berada di atas kadar normal yaitu 200 mg/dL. Ini sangat logis, karena menurut AHA, total kolesterol diperkirakan = LDL + HDL + (1/5 X trigeliserida).
Dengan demikian maka sungguh sangat sempurna ancaman penyumbatan arteri pembuluh darah jantung saya.
Ancaman ini mengingatkan saya pada komentar seorang kepala laboratorium klinik di Bogor 10 tahun lalu, katanya: darah Pak Pius seperti minyak curah, karena tingginya kadar trigeliserida darah saya.