Duel antara Arsenal kontra Chelsea (3/5/23) di stadion Emirates menunjukkan dua situasi yang berbeda dari kedua klub tersebut. Bagi Arsenal, kemenangan 3-1 atas Chelsea tak hanya menggeser posisi Manchester City dari puncak klasesemen sementara Liga Inggris, tetapi juga menjaga persaingan untuk meraih trofi Liga Inggris pada musim ini.Â
Kemenangan itu sangatlah krusial lantaran posisi Arsenal sebenarnya tak aman. Teror Man City belum berakhir.Â
Man City masih menyisahkan dua laga tabungan, yang apabila dimenangkan semuanya, akan secara otomatis menggeser Arsenal dari puncak klasemen.Â
Untuk itu, kemenangan menjadi harga mati bagi Arsenal pada laga-laga tersisa. Tentu saja, misi Arsenal itu perlu dibarengi dengan keajaiban, di mana Man City terantuk seperti meraih hasil kalah dan seri di laga-laga tersisanya.Â
Keajaiban itu memang sulit diprediksi. Man City sementara berada tren yang positif, di mana tim asuhan Pelatih Pep Guardiola tak kalah dari 12 laga terakhir pada semua kompetesi. Juga, Man City tetap konsisten meraih kemenangan, walau bermain dalam laga-laga sulit dan rumit.Â
Kemenangan kontra Fulham menjadi salah satu contoh pekan lalu. Man City agak sulit merontokan kesolidan lini belakang Fulham.Â
Ditambah lagi, Man City bermain tanpa gelandang andalannya Kevin de Bruyne yang menderita cedera. Hal itu cukup menyulitkan Man City dalam melakukan serangan ke daerah pertahanan Fulham.Â
Walau laga begitu berlangsung seru dan rumit, Man City tetap meraih kemenangan. Hal itu terjadi lantaran pelatih Pep Guardiola mempunyai opsi bagaimana memecahkan kebuntuhan.Â
Julian Alvarez yang kadang dimainkan sebagai striker menggantikan Erling Haaland, kadang dimainkan sebagai penyerang lubang atau pemain bernomor punggung 10. Gol jarak jauhnya berhasil memecahkan kebuntuhan dan memberikan kemenangan 2-1 atas Fulham.Â
Performa Man City itu membuat Arsenal  kepepet. Peluang untuk bertahan di peringkat pertama selalu terancam.Â