Mohon tunggu...
Donald Haromunthe
Donald Haromunthe Mohon Tunggu... Guru - Guru Seni Budaya di SMA Budi Mulia Pematangsiantar

Saya juga menulis di donald.haromunthe.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Menyanyi Tidak Mesti di Kamar Mandi

4 Desember 2015   18:32 Diperbarui: 4 Desember 2015   19:01 146
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tentu saja.

Semua orang tahu bahwa menyanyi itu sebaiknya memang tidak di kamar mandi. Apalagi kalau yang lagi unjuk suara itu ingin supaya suaranya dikenal. (Ini menyanyi dalam makna sebenarnya loh, bukan kayak para "penyanyi" di gedung Senayan dan sekitarnya). 

Ada panggung dangdut untuk penyanyi dangdut. Bahkan sampai jadi market besar yang diramaikan oleh beberapa channel televisi di republik ini. Tak terhitung banyaknya orang yang terlibat dalam Dangdut Academy Asia di salah satu TV swasta, misalnya. Banyak juga yang sudah lebih dahulu mengumpulkan banyak pundi-pundi dengan menggandeng brand dari local treasure (khazanah lokal) bangsa kita ini. Sebut saja Inul dengan Inul Vizta, misalnya. Orang bilang, layaknya Batik, kendati dangdut tidak benar-benar berasal dari Indonesia, tapi layak jadi identitas bangsa juga. 

Ada panggung jazz juga di banyak tempat di republik ini. Meski tidak begitu mendalami jazz tetapi dulu beberapa kali sempat ikut nonton (nonton loh ... ) di Teras Kota Mall, BSD. Musik Jazz itu katanya bisa mewakili ekspresi tak terungkapkan dengan paragraf-paragraf di artikel apalagi orasi penuh retoris di televisi dan panggung-panggung, termasuk punchline-punchline yang setengah matang di Stand Up Comedy. 

Ada panggung jalanan yang rame dihiasi oleh para rastafarian dan penikmat musik reggae. FYI, reggae juga bisa dinikmati tanpa assosiasi sedikitpun dengan si weeds. 

Ada panggung tradisional juga untuk masing-masing musik tradisional. 
Ada panggung remix buat yang suka nge-remix. Ini kayaknya bakal jadi rising star untuk trend musik yang baru. Kendati saya tidak begitu senang jika sebuah karya diotak-atik begitu saja hanya untuk menghasilkan sesuatu yang serba aneh tanpa ide kreatif di dalamnya. Semoga acara The Remix di sebuah TV Swasta lain bisa mengakomodasi lebih dari komentar nyinyir saya ini.

Singkatnya, ada panggung buat semua penyanyi.

Tapi, siapakah yang disebut penyanyi? Ya, semua orang yang menyanyi, termasuk yang tanpa sadar menyanyi atau tidak mau kalau orang lain mendengar nyanyiannya. 
Ada banyak kontes buat penyanyi yang ingin dikenal sebagai idol-idol berikutnya. Dan ... lebih banyak lagi kontes buat penyanyi yang TIDAK ingin dikenal sebagai penyanyi. Yang terakhir ini, entah nyaman atau tidak, sering disebut dan menyebut diri mereka sendiri sebagai penyanyi kamar mandi.

Mungkin ini tidak berlaku buat semua orang. Tapi kebanyakan akan bereaksi dan mengafiliasikan diri ke Komunitas Penyanyi Kamar Mandi (eh ... emang ada ya komunitas ini?) begitu diajakin karaoke oleh teman kerja, misalnya. Dari Komunitas Karaoke Lovers di dunia maya, mereka tida-tiba beralih ke Komunitas Kamar Mandi Singers di dunia nyata.

"Bro, ntar abis office hour kita nyeng-nyong di Inul yuk", kata seorang teman sekali waktu. "Ayuk aja sih. Tapi gua nggak bisa nyanyi brader. Soal e aku iki cuman penyanyi kamar mandi", balas temanku satu lagi. Aku nggak ditanya sih. Soalnya mereka tahu kalau saya memang suka nyanyi. Pun senang juga jika dikenal sebagai penyanyi (please ... jangan ada yang minta akun soundcloud saya, ya hehehe)..

Namanya juga ramah-tamah.
Dan ini yang membuat mengapa nyanyian dan urusan nyanyi-menyanyi ini menarik. Maksud saya, menyanyi yang bukan di kamar mandi loh. Tapi menyanyi bersama. Mendengarkan suara teman yang bernyanyi dan sekaligus mendengar suara kita. 
Bukan soal bagus tidaknya suara. Tetapi ketika menyanyi, orang akan diajak berfikir dua atau tiga kali saat menyanyi bersama ataupun menyanyi sendiri di depan orang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun