Keterulangan mutlak adalah terlarang dalam alam karena bertentangan dengan kemahapenciptaan Tuhan. Dia, Sang Maha Pencipta, memiliki kuasa yang tak terhingga untuk menciptakan sesuatu secara unik. Tidak ada dua ciptaan-Nya yang sama persis. Kebijaksanaan-Nya mewajibkan setiap makhluknya bersifat unik sebab Dia, Allah, adalah Al-Khaliq.
Waktu, sebagai ciptaan Tuhan, dengan tegas melarang keterulangan. Ia akan menebas tanpa ampun setiap upaya makhluk untuk menodai kemahapenciptaan Al-Khaliq melalui keterulangan mutlak. Pesan tersembunyi di balik setiap upaya manusia untuk kembali ke masa lalu atau mengulang waktu adalah upayanya untuk mengakali ketentuan Al-Khaliq. Dan ketentuan-Nya tersebut juga adalah ciptaan-Nya. Dalam posisi ini benarlah ujaran para sufi bahwa waktu adalah pedang. Dan, dalam konteks ini pula, benar sekali perkataan Imam Hasan Al-Bashri---sebagaimana saya kutip dalam tulisan sebelumnya, Tempus Fugit:
"Wahai anak Adam, kamu tidak lebih dari serangkaian hari. Kapanpun satu hari berlalu, maka begitu pun sebagian dari kamu telah berlalu."
Dua kaidah dalam ilmu sejarah menemukan titik rekonsiliasinya.
Menyarungkan Pedang Terhunus
Ramadan mengajarkan kepekaan terhadap waktu. Sebagai Syahrul 'Ibadah (Bulan Ibadah), Ramadan melatih kita untuk memperhatikan ibadah sesuai waktu terbaiknya. Bukan itu saja, bulan yang mulia ini juga mengatur waktu makan, waktu tidur, waktu intimasi dan hal-hal penting lainnya. Bila saja kita secara sadar menjalani dan menafakurinya, maka Ramadan telah menyarungkan pedang waktu yang kapan saja siap menebas nadi kehidupan kita. Sebuah pelajaran teramat berharga yang teramat sayang untuk terluputkan begitu saja.
Hari ini, Sabtu, adalah hari ketujuh baik dalam siklus mingguan maupun penanggalan Ramadan. Mulai besok, Minggu, koinsidensi ini akan berakhir. Sebab, hari Minggu esok urutan hari dalam minggu kembali kepada satu (Ahad) sementara dalam penanggalan Ramadan kita memasuki tanggal yang kedelapan. Tentu tidak ada yang istimewa dengan koinsidensi ini. Akan tetapi bukan berarti tanpa makna sama sekali. Setidaknya untuk menyisakan ruang renungan saat menutup tulisan ini.
Selamat berakhir pekan! Â Â Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H