Secara umum inti cerita pertama film ini adalah Kapten Maverick (Tom Cruise) diminta melatih para pilot perwira muda terbaik di US NAVY untuk melakukan misi sangat berbahaya menghancurkan fasilitas senjata nuklir musuh di tempat yang sulit dijangkau dan dilindungi oleh senjata berat anti pesawat tempur, sebuah misi yang hampir dikatakan mustahil.
Jet tempur US NAVY saat ini yang dinilai cocok untuk melakukan misi tersebut adalah F/A-18 Super Hornet buatan pabrikan Boeing.
F/A-18 Super Hornet merupakan jet tempur yang dikembangkan dari basis F/A-18 Hornet dan sebagaimana dituliskan Boeing dalam situs resminya, F/A-18 Super Hornet merupakan jet tempur taktis terbaru dan merupakan tulang punggung kekuatan udara armada Kapal Induk AS saat ini dan untuk beberapa dekade mendatang.Â
F/A-18 Super Hornet merupakan kuda beban kekuatan udara armada kapal induk AS yang mampu melakukan misi superioritas udara maupun melakukan serangan langsung ke wilayah musuh.
Memiliki sistem dan teknologi tempur terkini, mampu membawa berbagai macam persenjataan serta telah teruji di medan tempur sesungguhnya menjadi fitur andalan pesawat tempur ini.
Jet tempur ini terdiri atas dua varian, yaitu F/A-18E Super Hornet untuk kursi tunggal dan F/A-18F Super Hornet untuk kursi ganda. Sejumlah literatur juga menyebutkan bahwa F/A-18 Super Hornet merupakan program pertahanan AS yang terbilang cukup sukses.
Di film ini kita dapat menyaksikan Kapten Maverick (Tom Cruise) duduk di kokpit F/A-18 Super Hornet dan menjadi instruktur para pilot muda.
Singkatnya, dengan alur cerita yang dibumbui dengan drama-drama, konflik selama pelatihan, hingga hari-H pelaksanaan misi penghancuran pangkalan musuh tersebut berhasil dilakukan, tetapi percayalah hal itu tidak sesederhana dalam tulisan ini jadi film ini sangat menarik untuk ditonton.
Sinematografi yang apik membawa penonton ke dalam ketegangannya tersendiri ketika misi latihan dan penyerangan dengan pesawat tempur dilakukan.
Ada satu hal menarik dalam film ini, penulis tidak berhasil menemukan nomor lambung dari kapal induk AS di film ini sehingga tidak dapat mengidentifikasi Kapal Induk AS di film ini dari Kelas Nimitz atau Kelas Gerald R. Ford. Entah penulis yang kurang teliti memperhatikan atau kesengajaan sang sutradara untuk menyamarkan wilayah apa yang dijadikan setting sebagai tempat fasilitas musuh.
Selain itu, sebagaimana dilansir oleh Eurasiantimes dalam artikelnya yang berjudul "Advantage Super Hornets: Is Boeing’s ‘Maverick Marketing’ Helping F-18 Jets Overcome Rafale Challenge For Indian Navy Deal?" sepertinya film ini diharapkan menjadi media promosi untuk F/A-18 Super Hornet karena meskipun memiliki fitur canggih namun tender penjualan pesawatnya ke sejumlah militer dunia kurang moncer.