Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Freelancer - Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Tanpa Exit Strategy, Pandemi Takkan Pernah Usai

1 Juli 2020   16:28 Diperbarui: 2 Juli 2020   07:53 865
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bayangkan biaya rapid tes per orang paling murah katakanlah 200 Ribu Rupiah dikali seribu warga, lalu ada yang positif 10 orang dan tiap orang harus di swab tes dengan biaya termurah dua juta Rupiah, itupun harus dua kali swab, belum lagi biaya karantina yang kadang dipaksakan padahal yang bersangkutan sehat.

Sudah banyak kejadian tes massal tidak tepat sasaran, seperti pernah ditulis seorang rekan Kompasiana di Jambi, belum lagi di daerah-daerah lain. Mereka yang sehat dipaksa untuk dikarantina sehingga ada yang di-PHK atau tidak berdagang. 

Akhirnya terjadi efek domino karena yang ditinggalkan tidak ada pemasukan, sementara pemerintah tidak menanggung beban orang yang ditinggalkan akibat karantina. Setelah mereka pulangpun dikucilkan warga karena dianggap membahayakan, padahal sudah jelas hasil tesnya negatif.

Sekarang banyak kasus orang meninggal atau tidak tertolong gara-gara harus di rapid tes atau swab tes dulu sebelum di diagnosa.

Padahal ada beberapa penyakit yang butuh penanganan cepat seperti jantung, ibu hamil mau melahirkan, cuci darah, kecelakaan lalin, tak mungkin menunggu hasil tes yang paling cepat untuk rapid 3-4 jam, sementara untuk swab bisa 1-2 hari. Tidak ada terobosan dari faskes untuk mendeteksi singkat pasien yang datang.

Pandemi sudah empat bulan berlalu, dan bisa dilihat angka-angka kematiannya jauh dari prediksi awal para ahli, dan di sisi lain tingkat kesembuhannya semakin tinggi walau belum ada obat apalagi vaksinnya. 

Lagipula bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, mengutip Ratna Megawangi dalam tulisannya berjudul Korona dan Statistik Kepanikan di harian Kompas tanggal 20 Juni 2020, tidak sebanding dengan dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkannya.

Bandingkan juga dengan penyakit berbahaya lain dan tingkat kematian tahun-tahun sebelumnya, apakah terjadi lonjakan tinggi atau masih cenderung stabil.

Lihatlah kondisi lapangan di sekitar kita sekarang. Masyarakat sudah banyak beraktivitas seperti biasa, namun tidak ada tanda-tanda munculnya klaster baru yang jumlahnya besar. 

Masih ingat kejadian McD Sarinah, lalu ngabuburit saat belanja lebaran, setelah lewat 14 hari toh tidak terjadi lonjakan besar kasus. 

alaupun jumlahnya besar itu lebih karena banyaknya tes massal yang dilakukan dan banyak orang yang sehat ikut dites sehingga hasilnya yang sembuhpun meningkat pesat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun