Publik sempat heboh dengan beredarnya sebuah tabloid berjudul Indonesia Barokah. Polemik bermunculan kerena tabloid itu disinyalir berisi kampanye hitam dan masuk ke masjid-mesjid tanpa tau siapa pengirimnya.
Tabloid itu menyasar mencoba menyasar untuk menggerus elektabilitas salah satu paslon yakni kubu oposisi Prabowo-Sandi. Kubu Prabowo-Sandi pun secara cepat bereaksi, dengan cara mengadukannya kepada dewan pers juga ke pihak kepolisian. Tabloid tersebut dinilai menebar desas-desus yang tidak benar, juga bermuatan hoaks yang menyerang kubu Prabowo-Sandi.
Di tengah polemik tabloid itu saya kaget sebab disebut nama Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf, Ipang Wahid. Saya tau nama itu sebab nama Ipang Wahid adalah nama yang sangat disegani dalam dunia kreatif dan content digital, teman saya pun ada yang bekerja sebagai salah satu tim kreatif dalam naungan Ipang Wahid.
Saya memberanikan diri untuk membuka komunikasi dengan melemparkan sapaan sebagaimana biasa, "lagi dimana broo, ngopi sambil bagi-bagi cerita sabi gak nih?" ujar saya pada sebuah dalam sambungan suara. Ajakan saya pun ditanggapi "Weitss ada apa nih broo? Asyik juga nyeduh kopi maleman kayaknya. Konstelasi lagi perlu kafein nih biar lebih tenang".Â
Saya cukup senang pada saat itu mendapat sambutan yang positif, tapi mencium aroma kecurigaan dari teman saya seolah dia tau intensi ajakan saya untuk bercakakap soal dinamika politik hari-hari itu. Lalu kami janjian disebuah kedai kopi pinggir jalan yang cukup tenang di bilangan selatan Jakarta.
Waktu menunjukan pukul hampir jam setengah 11 kala itu, jumat malam yang disertai gerimis. Malam akan panjang pikir saya dan semoga obrolan nanti akan hangat sebagaimana kopi yang saya pesan. Tak lama setelah memesan kopi, teman saya pun datang. Sumringah kita kala itu, sebab ada beberapa kawan lain yang ikut dalam perbincangan.
Kopi pun tersaji, saya masih menunggu narasi apa yang akan muncul untuk memecah sunyi dalam percakapan kami. Kopi pun saya sruput dengan penuh keyakinan, lalu setelahnya saya melemparkan candaan, "barokah ini malem, gerimis-gerimis gini bisa nongkrong bareng sambil ngopi". Lalu gelak tawa pun membuncah, yang secara langsung dijawab, oleh teman saya "iyanih mantep malem, kopinya beraroma investigasi". Kami pun tertawa terpingkal-pingkal.
Teman saya pun kembali ke statement awalnya, "yaa namanya juga gimmick bro, kubu sebelah kan suka bersandiwara tuh. Gw pribadi sih gelagat bos gw main gak kecium dikantor, emang sih nama doi santer disebut, tapi gw belum bisa jamin ini beneran doi yang main. Ya lo tau lah gw biasanya bikin apaan? Gak main lah gw berkubang dilumpur gitu, biarin cebong aja itumah kerjaannya, hahahaha, kalo moles-moles persona jadi ciamik tu baru deh jago".Â
Saya pun mengamini itu, "iyasih gw juga kaget sekaliber bos loe (Ipang Wahid) mana mau main begitu, tapi yang gak gw abis pikir banyak lo di twitter yang ngulas gimana keterlibatan doi, sampe ada yang bikin tread-nya coi, pake pembuktian screenshot2 gitu". Â "Ya namanya juga framming, bisa dibuat dan diarahkan", ujar teman saya.