Ketaatan radikal yang dijalankan secara brutal hanya akan menghasilkan kerugian semata. Pembina asrama memberi amanat bahwa hari Jumat adalah waktu untuk menyucikan diri. Kembali ke semangat awal demi mendapatkan kesucian asali. Selain itu alasan lainnya adalah demi menghemat pengeluaran biaya asrama.
Seorang sahabat di dalam kamarnya sembari baring di tempat tidurnya, meringis perih memegang perutnya. Ia menahan lapar yang luar biasa karena tidak terbiasa berpuasa. Nada pergi menjenguknya untuk membawakan roti. Tak diduga pembina asrama mendapati mereka berdua dan akhirnya mereka harus menjalani hukuman. Berlutut di depan teras sampai pembina asrama memanggil mereka kembali.
"Maaf Nada, aku membuat kau dihukum."
"Jangan kau pikirkan. Untung tadi kamu sempat makan jadi masih punya tenaga untuk menjalani hukuman."
"Iya. Tapi kenapa kau melanggar demi aku?"
"Ya begitulah, ketaatan memang mengamankan kita dari peraturan, tapi cinta tahu kapan harus melanggarnya."
"Terdengar seperti sebuah gerakan revolusi."
"Setidaknya itu yang dilakukan DIA kan, aku hanya meniru-Nya." Tegas Nada sambil menunjuk ke dinding.
"Kau tidak takut dengan hukuman?"
"Agar suaramu terdengar, kau butuh keberanian untuk menyampaikannya. Kadangkala kepemimpinan dilakukan secara otoriter dan tangan besi. Selama kita masih di bawah otoritas mereka, kita hanyalah obyeknya. Kau benar, kita perlu melakukan revolusi."
"Begitulah. Seperti perjuangan rakyat kecil meminta keadilan dari pemerintah."