Ditulis oleh: Dinda Puspita Hervira
Instansi: Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta
Narahubung: 2110411158@mahasiswa.upnvj.ac.id
A. Pendahuluan
Piala Dunia FIFA Pria atau biasa disebut Piala Dunia merupakan kompetisi sepak bola tingkat internasional yang diikuti tim nasional sepak bola senior dari berbagai negara. Di mana acara ini diselenggarakan dalam empat tahun sekali dan diikuti 32 negara yang sudah berhasil lolos seleksi pertandingan. Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1930, sebanyak 22 turnamen telah berlangsung dengan 80 negara partisipan. Terbaru, perhelatan Piala Dunia FIFA Pria 2022 telah terlaksana di Qatar pada bulan November hingga Desember tahun lalu. Negara Argentina keluar sebagai juara dan sukses menjadikan mereka tim nasional sepak bola pria terbaik di dunia.
Beberapa kontroversi bermunculan seiring persiapan, pelaksanaan, hingga pasca turnamen diselenggarakan. Salah satu yang menarik perhatian adalah isu kampanye LGBT yang dilakukan oleh penonton hingga pemain sepak bola dari Piala Dunia itu sendiri. Perbincangan panas disebabkan kampanye tersebut bertolak belakang dengan aturan hukum dan budaya yang dianut oleh Qatar sebagai negara muslim. Pada negara Timur Tengah tersebut, homoseksualitas merupakan sebuah hal ilegal yang tidak boleh dikampanyekan oleh siapapun. Larangan yang dilakukan termasuk penggunaan ban kapten pelangi yang biasa digunakan sebagai bentuk dukungan skuat sepak bola terhadap komunitas LGBT.
Melansir BBC, LGBT merupakan sebuah singkatan untuk Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Singkatan tersebut pertama kali digunakan pada tahun 1990an untuk merujuk pada kaum minoritas yang memiliki orientasi seksual berbeda. Belakangan singkatan tersebut diperluas menjadi LGBTQIA+ dengan dimasukkannya beberapa identitas gender seperti Queer, Interseks, Aseksual, dan Panseksual. Diketahui 16 dari 32 kontestan Piala Dunia Qatar 2022 merupakan negara yang melegalkan LGBT dengan Undang-Undang pengikat yang kuat atas dasar hak asasi manusia.
Peran media sepak bola dalam menyebarkan informasi polemik kampanye LGBT di Piala Dunia 2022 Qatar menjadi persoalan sendiri dengan respon pro kontra yang menghiasi kolom komentar. Salah satu media sosial yang kerap digunakan dalam menyuarakan pemberitaan masalah ini adalah X-Twitter, yaitu sosial media milik Elon Musk. X-Twitter menjadi pilihan banyak penggemar sepak bola dikarenakan konsep anonim yang dapat menjadi pilihan. Salah satu akun yang kerap dijadikan sumber berita sepak bola terpercaya di Indonesia adalah @FaktaSepakbola.
Akun yang memiliki pengikut 496 ribu tersebut pertama kali didirikan pada Maret 2023. Secara rutin di setiap harinya akun @FaktaSepakbola memposting berita hingga rumor sepak bola, baik dalam lapangan maupun di luar lapangan. Sebagai media pemberitaan, @FaktaSepakbola tidak menunjukkan keberpihakan dalam kasus kampanye LGBT yang terjadi di Piala Dunia tahun lalu. Namun, hal unik dapat dilihat pada kolom komentar yang menunjukkan reaksi beragam dari pecinta sepak bola. Terlihat sebagian besar respon memberikan pernyataan kontra terhadap permasalahan tersebut.
Permasalahan semakin rumit dengan munculnya ancaman dari beberapa negara yang mengatakan akan meninggalkan ajang Piala Dunia jika masih tidak diizinkan mengkampanyekan LGBT dengan penggunaan ban pelangi. Berkaitan dengan hal-hal tersebut, maka peneliti memiliki minat untuk menganalisis permasalahan yang terjadi dengan rumusan masalah, bagaimana dinamika kampanye LGBT dalam Piala Dunia Qatar 2022 dan peran akun X-Twitter @FaktaSepakbola dalam kampanye LGBT yang dilakukan pada ajang Piala Dunia Qatar 2022?
B. Pembahasan
Sejak abad ke-19, eksistensi LGBT sudah ada di dunia. Namun, pada waktu itu penyimpangan seksual tersebut dianggap sebagai sebuah gangguan mental hingga kriminal. Diskriminasi dilakukan oleh mayoritas masyarakat. Jika dibandingkan pada masa sekarang, maka terlihat perbedaan cukup jelas. Di mana saat ini sebagian besar negara barat melegalkan tindakan tersebut dan menjunjung tinggi kebebasan orientasi seksual dan gender sebagai bentuk hak asasi manusia. Di sisi lain, terdapat beberapa negara yang secara tegas dan mengikat melarang segala bentuk dukungan dan perilaku LGBT, salah satunya adalah negara Qatar. Negara yang terletak di Asia Barat itu menerapkan hukuman mati untuk para penganut agama Islam yang melakukan hubungan sejenis. Sedangkan, untuk non muslim dikenakan sanksi tujuh tahun penjara.
Perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar ramai diperbincangkan di media sosial setelah maraknya isu kampanye LGBT yang tidak sesuai dengan kebijakan negara tuan rumah itu sendiri. Kampanye yang dilakukan berpacu pada penggunaan ban kapten ‘One Love’. Penggunaan ban kapten tersebut juga digambarkan sebagai bentuk dukungan terhadap anti diskriminasi, anti rasisme, hak asasi manusia, dan hak LGBTQ (Syed, 2020). Penyeruan ini pertama kali digaungkan pada kompetisi liga Belanda atau Eredivisie di tahun 2020. Hal tersebut berlanjut hingga UEFA Euro Cup 2020.
Bertujuan melanjutkan kampanye tersebut, tujuh skuat tim nasional peserta Piala Dunia Qatar 2020, yaitu Belanda, Jerman, Inggris, Swiss, Belgia, Denmark, dan Wales berencana menggunakan ban kapten ‘One Love’. Melansir BBC Sport, FIFA selaku penyelenggara melarang gerakan tersebut dan akan memberikan sanksi berupa kartu kuning atau bahkan kartu merah kepada kapten yang menggunakan ban kapten tersebut. Adapun ban kapten yang wajib digunakan adalah bertuliskan ‘No Discrimination’.
Salah satu protes paling keras diutarakan oleh timnas Jerman. Di mana sebelum pertandingan melawan Jepang kesebelasan pemain melakukan pose tutup mulut yang menyimbolkan bahwa hak kebebasan mereka ‘dibungkam’ oleh regulasi FIFA dan Qatar terkait kampanye LGBT. Di sisi lainnya, ada Harry Kane selaku kapten timnas Inggris yang tetap menggunakan ban kapten pelangi hingga menimbulkan kekhawatiran Asosiasi Sepak Bola Inggris.
Jika dianalisis lebih mendalam, maka berbagai tindakan di atas dapat dikaitkan dengan teori interaksionis simbolis oleh George Herbert Mead yang terdiri dari pikiran, diri, dan masyarakat. Perbedaan pandangan antara FIFA selaku penyelenggara dan Qatar sebagai tuan rumah menimbulkan permasalahan cukup serius. Bahkan, hal ini menimbulkan efek di dalam dan luar lapangan. Salah satunya adalah kecaman melalui sosial media yang ditujukan Qatar karena dianggap melanggar hak asasi manusia.
Teori agenda setting milik McComb dan Donald L. Shaw juga memiliki keterikatan kuat dengan isu kampanye LGBT di Piala Dunia Qatar 2022. Teori tersebut berfokus pada peran media massa dalam menentukan topik atau isu mana yang ingin menjadi pusat perhatian publik. Hal ini dapat dilihat dengan bagaimana berita-berita di media online dan berbagai akun media sosial olahraga mengangkat isu tersebut. Pemberitaan yang dibahas akan menimbulkan reaksi publik, baik individu maupun komunitas. Selain itu, dengan mengangkat isu ini ke permukaan, maka akan memberi pemahaman lebih jauh terkait permasalahan yang terjadi. Mayoritas pecinta sepak bola akan membahas isu ini terus menerus, bahkan hingga ajang olimpiade itu sendiri sudah usai.
Salah satu yang ikut serta menyebarkan berita kampanye LGBT di Piala Dunia Qatar 2022 adalah akun X-Twitter bernama @FaktaSepakbola. Tercatat, setidaknya ada enam postingan yang mengandung pemberitaan tersebut. Akun yang memiliki 499 ribu pengikut tersebut membingkai permasalahan LGBT menjadi salah satu isu utama dalam Piala Dunia tahun lalu. Postingan yang memiliki respon paling banyak terlihat ketika @FaktaSepakbola memberikan beberapa penggal kalimat kontra LGBT yang diutarakan oleh Kepala Keamanan di Piala Dunia Qatar, Abdullah Al Nasari. Adapun Nasari mengatakan, "Jika Anda ingin mengungkapkan pandangan Anda mengenai LGBT, lakukanlah dalam masyarakat yang bisa menerima hal itu. Jangan datang dan menghina seluruh masyarakat (kami)."
Kolom komentar postingan tersebut diramaikan dengan berbagai respon publik. Sebagian besar menyatakan kontra terhadap kampanye LGBT yang dilakukan negara pro LGBT dalam olimpiade sepak bola terbesar di dunia itu. Namun, ada pula yang mendukung tindakan negara barat dan mengaitkannya dengan kebebasan berekspresi serta hak asasi manusia. Sebagian besar juga menganggap bahwa kampanye LGBT yang dilakukan seharusnya tidak dilakukan, mengingat tindakan suportif dalam olahraga adalah tidak melibatkan politik.
Sebagian besar kontra yang diberikan pada kolom komentar berbasis pada aturan dan hukum dalam Islam yang melarang segala bentuk praktek LGBT. Sedangkan, komentar yang mendukung kampanye LGBT di Piala Dunia Qatar cenderung menggunakan alasan hak asasi manusia dan anti diskriminasi pada kaum minoritas. Hal ini juga dapat ditemui dalam postingan lain dengan pembahasan isu yang sama. Lebih banyaknya pertentangan terhadap kampanye LGBT di Indonesia wajar terjadi, mengingat Indonesia merupakan negara dengan penganut Islam terbesar di dunia.
Di sisi lain, surat kabar negara-negara barat terus menggencarkan pemberitaan dengan titik fokus meminta Qatar melunakkan regulasi terkait kampanye ‘One Love’ di dalam Piala Dunia 2022. Mereka menganggap bahwa pelarangan tersebut bersifat politik dan tidak memiliki kesinambungan dengan turnamen olahraga sepak bola. Protes juga disuarakan oleh aktivis LGBT di depan Museum FIFA yang terletak di Zurich, Swiss. Permasalahan semakin rumit dengan tercetusnya opini dari Ambassador Piala Dunia sekaligus pemain timnas Qatar, Khalid Salman, yang mengatakan bahwa LGBT adalah kerusakan pikiran dan rohani.
Keterkaitan antara kampanye LGBT di Piala Dunia 2022 Qatar dan politik merupakan hubungan yang kompleks. Qatar sebagai negara Islam konservatif memiliki pandangan bahwa homoseksualitas dan turunan LGBT lainnya merupakan hal ilegal dan dianggap pelanggaran hukum. Penyeruan kesetaraan kaum minoritas seperti LGBT memiliki potensi tekanan politik pada Qatar untuk membuka pandangannya terhadap isu LGBT.
Adanya perbedaan kepentingan antara Qatar sebagai tuan rumah dan masyarakat pro LGBT jika dilihat dari sudut pandang sosiologis maka akan berhubungan dengan konsep Stock of Knowledge yang dicetuskan oleh Peter Berger. Di mana pada konsep tersebut individu dibatasi oleh pengetahuan yang dimiliki, terutama jika menyangkut tentang kehidupan sehari-hari. Pengetahuan yang terbatas ini kemudian digunakan sebagai cara seseorang menghadapi permasalahan.
Masyarakat Qatar yang secara turun temurun menganut nilai dan hukum Islam maka akan memberi pertentangan dengan sesuatu yang dilarang dalam kepercayaannya, yaitu LGBT. Menurut hukum dalam Islam, LGBT merupakan hal yang tidak diperkenankan untuk dilakukan atau dukung. Di sisi lain, ada negara barat yang memiliki pandangan bahwa kebebasan manusia dalam menentukan pilihan hidupnya tidak bisa dibatasi. Perbedaan nilai budaya ini lah yang menimbulkan konflik pada Piala Dunia Qatar 2022.
C. Kesimpulan
Keberadaan LGBT sudah ada sejak abad 19 dan dianggap sebagai sebuah penyakit mental. Namun, di negara barat kini LGBT dipandang sebagai bagaimana seseorang memilih jalan hidupnya. Pandangan tersebut memiliki perbedaan dengan persepsi negara Islam konservatif seperti Indonesia dan Qatar. Di mana LGBT merupakan suatu tindakan haram untuk dilakukan dan didukung. Perbedaan pandangan ini kemudian menimbulkan isu pada perhelatan Piala Dunia Qatar 2022 lalu.
Permasalahan diawali dengan larangan penggunaan ban kapten bertuliskan ‘One Love’ yang merujuk pada dukungan terhadap komunitas LGBT dan kaum terdiskriminasi lainnya. Pelarangan tersebut merupakan kesepakatan antara Qatar sebagai tuan rumah dan FIFA sebagai penyelenggara. Namun, beberapa negara seperti Inggris dan Jerman tidak setuju. Mereka tetap bersikukuh menyuarakan kampanye LGBT, meskipun berpotensi dikenakan sanksi berupa kartu merah hingga kurungan penjara.
Perbedaan kepentingan antara Qatar, FIFA, dan aktivis LGBT berperan penting dalam konflik yang terjadi. Hal ini dapat dilihat dari sudut pandang teori interaksi, agenda setting, dan konsep stock of knowledge. Teori interaksi memandang tindakan tersebut sebagai pengekspresian diri. Sedangkan, pada agenda setting memfokuskan pada peran media massa dan sosial dalam menyebarluaskan berita. Terakhir, ada konsep stock of knowledge yang membuat konflik semakin memburuk dengan perbedaan nilai budaya negara barat dan Qatar.
Pada permasalahan tersebut, media massa dan media sosial memiliki peran penting untuk menyebarluaskan isu dan wadah masyarakat menyampaikan pandangannya masing-masing. Salah satu akun media sosial yang berperan menyebarluaskan adalah @FaktaSepakbola. Kolom komentar setiap postingan yang membahas terkait polemik kampanye LGBT di Piala Dunia 2022 maka akan menimbulkan pro dan kontra.
Daftar Pustaka
Alief, W. R., Ekoputro, W., & Arief, M. (2023, July). Framing Berita Kampanye LGBT Piala Dunia Qatar 2022 oleh Media Bola. Com Edisi November 2022. In Semakom: Seminar Nasional Mahasiswa Komunikasi (Vol. 2, No. 1, Pp. 226-230).
Fam, M. & Henao, L.A. (2022, November 9). Some LGBTq Fans Skip Qatar World Cup, Fearing Hostility. Associated Press. Retriever December 1, 2022. Diakses dalam Https://Apnews.Com/Article/World-Cup-Soccer-Sports-Religion-679b18a9480573b7fb72633ace63cc7b (22/09/2023, 20:30 WIB)
Gustina, Z. N. (2023). Interaksi Simbolik Tim Pendukung LGBT Pada Piala Dunia 2022. Brand Communication: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 1-8.
Hasibuan, L. (2022). 6 Kontroversi Piala Dunia Qatar: Bir Hingga Penonton Bayaran. Diakses dalam Https://Www.Cnbcindonesia.Com/Lifestyle/20221209102208-33-395263/6-Kontroversi-Piala-Dunia-Qatar-Bir-Hingga-Penonton-Bayaran  (22/09/2023, 21:00 WIB)
Islahi, M. H. (2023). Analisis Penolakan Kampanye LGBTQ Oleh Federation Internationale De Football Association (FIFA) Dalam Penggunaan Ban Kapten ‘One Love’ di Piala Dunia 2022 Qatar (Doctoral Dissertation, Universitas Muhammadiyah Malang).
Pratiwi, D. Tinjauan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Internasional Dalam Larangan Atribut Yang Terasosiasi LGBT Pada Penyelenggaran Piala Dunia 2022.
Setiawan, K. A. A. (2021). Intervensi Politik Kepada Fifa Dalam Word Cup 2022 Atas Reaksi Kontroversi LGBT: Antara Penegakan Hak Asasi Manusia dan Penghormatan Tuan Rumah Penyelenggara. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 9(1), 267-275.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI