Walaupun es dawet ini laris manis, namun untuk menikmati es dawet Mbah Hari cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 5000 seporsinya. "Dulu mulai dari Rp 25, terus Rp 50, Rp 150, Rp 1000, Rp 2000, Rp 3000, dan yang terakhir adalah Rp 5000, hingga sekarang," ucapnya sambil menyajikan dawet untuk pelanggan.
Mbah Hari berjualan setiap hari jika tidak ada kendala, hanya libur ketika 10 menjelang lebaran. Ketika Mbah Hari libur pun banyak pembeli yang menanyakan keberadaan Mbah Hari kepada para pedagang yang ada di sekitar simbah berjualan.
Dulu waktu covid-19 belum menyerang Indonesia, Mbah Hari bisa menghabiskan kurang lebih 100 mangkuk setiap harinya. Namun pandemi covid-19 tiba-tiba menyerang Indonesia yang mengahruskan pemerintah menerapkan PPKM dan sebagainya mengakibatkan industri pariwisata lemah dan Mbah Hari hanya bisa menghabiskan kurang lebih 50 mangkuk untuk seharinya.
Mengingat Yogyakarta adalah kota pelajar yang juga kota yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan yang ingin berlibur dari berbagai macam kota. Dengan adanya pandemi covid-19 ini pariwisata di Yogyakarta sempat terhenti dan hampir mati karena tidak ada wisatawan yang datang ke Yogyakarta.
Hal tersebut tentunya sangat berdampak untuk Mbah Hari karena mengingat beliau yang berjualan di area wisata dan banyak pelanggannya yang merupakan wisatawan dari luar kota. Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat Mbah Hari untuk berjualan es dawet di masa pandemi seperti ini, karena ini merupakan resep turun temurun yang harus dijalankan terus menerus agar semakin banyak orang yang dapat merasakan betapa enaknya es dawet Mbah Hari.
"Saya akan tetap berjualan es dawet ini sampai nanti sudah tidak kuat lagi. Selama masih bisa saya akan terus membuatkan es dawet kepada  pembeli," ujarnya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H