Â
Yogyakarta-Pandemi Covid 19  yang terjadi di Indonesia sejak Maret 2019 kemarin membawa  dampak yang cukup signifikan dalam berbagai aspek. Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk bisa beradaptasi. Hingga akhirnya kita terbiasa dalam beraktivitas di rumah.
Begitupula yang terjadi pada dunia pendidikan Indonesia, dimana anak-anak harus belajar dari rumah, yang mana ini memberikan dampak kurang maksimalnya dalam pembelajaran karrna adanya keterbatasan.
Dampak yang paling berasa adalah terjadi pada anak anak berkebutuhan khusus, lantaran mereka memiliki keterbatasan fisik dan juga keterbatasan akses. Seperti yang ada pada SLB-A Yaketunis.Â
Ibu Aini, selaku staff guru di SLB-A Yaketunis memaparkan melalui pertemuan langsung pada 2/11/2021 Â "Dalam pembelajaran daring ini, siswa cenderung pasif, susah diajak berkomunikasi, dan sulit memahami materi. Karena dalam kemampuan menggunakan gadget, anak dengan kebutuhan tunanetra kurang mampu dalam mengakses media yang ada."
Muhammad rifky Yanuardi, alumni SLB-A Yaketunis juga memaparkan melalui telpon whatshap pada 3/11/2021 bahwa dalam akses belajar offline saja, siswa cenderung lebih sering mendengarkan audio dibandingkan dengan praktik menggunakan peralatan digital.Â
Ini berarti dalam penguasaan gadget dan pandemi covid-19 ini membawa efek buruk bagi siswa difabel tunanetra di SLB-A yaketunis. Ibu aini berharap keramahan akses bagi anak berkebutuhan khusus perlu dilakukan demi kelancaran dalam proses belajar dan mengajar tanpa adanya diskriminasiÂ
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H