Selama ini Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sering dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Banyak dari mereka enggan untuk hidup seperti orang lain di sekitarnya yang diakibatkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya trauma masa lalu, realitas ekonomi yang begitu berat, hingga kelainan kognitif semenjak lahir. Tentu saja hal ini membentuk dinamika hidup dari orang yang sering disebut sebagai ODGJ.
Berbicara mengenai ODGJ, desa Wonorejo memiliki cara tersendiri untuk memberdayakan dan memberikan dukungan positif untuk mereka bisa berkembang seperti orang pada umumnya. Di Malang tepatnya di desa Wonorejo terdapat Posyandu Gerdu Sawah yang merawat sekaligus memberikan support moral yang begitu luar biasa bagi mereka. Posyandu Gerdu Sawah sendiri memiliki belasan anggota eks ODGJ yang menggantungkan hidupnya pada kegiatan yang dilakukan setiap bulannya. Namun, beberapa bulan terakhir Posyandu tersebut menghadapi beberapa tantangan seperti masalah finansial yang berkurang. Masalah finansial yang berkelanjutan menghambat jalannya kegiatan yang ada di Posyandu Gerdu Sawah dan berdampak pada keberlangsungan hidup eks-ODGJ di desa Wonorejo.
Sekelompok anak muda yang memiliki kepedulian dan jiwa sosial tinggi menggagas sebuah program khusus berjudul Piwulang Jati Diri. Kelompok Piwulang Jati Diri ini diketuai oleh Tutik Haryanti dan beranggotakan Andiani Salsa Sabrina, Dimas Bagus Firmandy, Dinda Putri Abadi, Grace Triana Kristianty, Halimatus Sa’diyah, Kuntum Kinanthi, Salsabila Azkia Syaifudin, Nur Izza Vania, Vanesa Kusuma Putri. Kelompok ini hadir dalam rangka membangkitkan kembali kegiatan dari Posyandu Gerdu Sawah dengan menggandeng sejumlah pihak seperti Pertamina Foundation, Griya Danakirti, dan Universitas Negeri Malang. Ketiga pihak tersebut akan bekerja sama dengan Piwulang Jati Diri guna mewujudkan ketahanan mental, finansial, sosial hingga psikis eks ODGJ di desa Wonorejo.
Kegiatan Piwulang Jati Diri dimulai sejak awal November 2024 yang memiliki 2 tujuan utama yakni meningkatkan kemandirian ekonomi eks-ODGJ dan pengembangan diri eks-ODGJ. Pada program kemandirian ekonomi terdapat 3 program utama antara lain, Piwulang re-branding dengan cara memperbarui identitas merek, Piwulang re-packaging diversifikasi produk serta pelatihan media sosial, dan Piwulang re-positioning pelatihan pemasaran dan segmentasi pasar. Sementara untuk melatih kesehatan mental eks-ODGJ terdapat program Piwulang bahagia yang dilakukan dalam rangka melatih kognitif eks-ODGJ di desa Wonorejo.
Kegiatan di atas dapat dikatakan sebagai langkah awal merubah stigma masyarakat yang selama ini masih sepele terhadap eks-ODGJ. Rencana ke depan Piwulang Jati Diri akan memperluas bidang pelatihan bidang keahlian dari eks-ODGJ tidak hanya membatik namun, ada berbagai macam keahlian baru yang akan diajarkan. “Kami juga mencoba mengembangkan produk dan pasar yang lebih inovatif, bahkan kami sedang menyusun strategi untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan nasional hingga multinasional,” ujar Tutik sebagai ketua.
Piwulang Jati Diri bisa dikatakan sebagai pioner bagi anak muda yang memiliki jiwa sosial tinggi. Harapan besar ke depan akan banyak komunitas baru di luar sana yang mampu membantu sesama dan menghapus segala macam diskriminasi bagi semua orang.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H