Mohon tunggu...
Usman Didi Khamdani
Usman Didi Khamdani Mohon Tunggu... Programmer - Menulislah dengan benar. Namun jika tulisan kita adalah hoaks belaka, lebih baik jangan menulis

Kompasianer Brebes | KBC-43

Selanjutnya

Tutup

Gadget Artikel Utama

Tips Membantu Kegaptekan Orang Lain

6 Juni 2020   13:27 Diperbarui: 8 Juni 2020   13:24 1197
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Masalah kegagapan pada teknologi komputer (gaptek) semacam laptop dan smarphone, sebenarnya hampir sama dengan kegagapan-kegagapan pada hal-hal lainnya. 

Ada dua penyebab utama, yaitu ketidaktahuan dan sikap apriori (baca: tidak pede).

Kurangnya Informasi dan Edukasi

Pertama, ketidaktahuan tentang teknologi yang digunakan. Kita semua tentu sama sekali awam saat pertama kali menggunakan laptop. Demikian juga saat pertama kali menggunakan smartphone. 

Meski, sebagian dari kita telah mempunyai wawasan sebelumnya, baik dengan membaca atau mengikuti pelatihan ataupun dengan memperhatikan orang lain saat menggunakan perangkat-perangkat tersebut.

Bagi orang-orang yang memiliki daya penangkapan dan nalar yang cukup bagus, mempelajari cara penggunaan laptop dan atau smartphone mungkin bisa sekali atau dua kali saja.

Namun, bagi mereka yang daya tangkap dan daya nalarnya kurang, bisa jadi harus berkali-kali mempelajarinya.

Di luar daya penangkapan dan nalar, seringkali kita juga lupa atau tidak memperhatikan hal-hal dasar pada perangkat teknologi semacam laptop dan smartphone, saat kita mengajari orang lain untuk menggunakannya. 

Hal ini biasanya berangkat dari anggapan kita bahwa hal-hal tersebut pasti akan dipahami sendiri oleh mereka, meski pada kenyataannya seringkali tidak demikian.

Beberapa hal dasar tersebut misalnya:

Power supply. Bahwa laptop dan smartphone sama-sama disuplai oleh baterai, tentu ini sudah menjadi pengetahuan kita bersama. Namun, hal ini justeru yang seringkali menjadi persoalan. 

Persoalan yang sering terjadi adalah tiba-tiba laptop atau smartphone mati karena daya baterainya yang lemah atau habis. Seringkali orang tidak memperhatikan untuk memastikan ketersediaan daya pada perangkatnya.

Kuota internet. Ini mungkin lebih kepada smartphone. Saat sedang asyik-asyiknya kita ngobrol atau chatting dengan orangtua kita, misalnya, yang berada jauh, tiba-tiba komunikasi terputus. Dan setelah kita selidiki ternyata kuota internet di ponsel orangtua kita telah habis. 

Padahal, sesuai informasi dari orangtua kita, sebelumnya kuota internet di ponsel orangtua kita masih tersisa dan orangtua kita pun telah mengisi pulsa juga bahkan dengan nominal yang cukup banyak. Antara pulsa dan kuota seringkali orang pun salah memahaminya. 

Banyak orang beranggapan bahwa ketika telah menyediakan pulsa maka saat kuota internetnya habis, secara otomatis paket kuotanya pun akan bertambah, terkonversi langsung dari pulsa yang tersedia. 

Padahal, ketika kuota internet habis, maka billing internet pun akan beralih ke penggunaan pulsa, namun tentu dengan harga yang sangat jauh berbeda. 

Misalnya jika kita membeli kuota internet sebesar 1 GB atau dengan kita memaketkannya dari pulsa kita, dengan harga 10 atau 20 ribu rupiah, maka saat berinternet langsung menggunakan pulsa tanpa kuota, biayanya bisa menjadi 5 atau 10 kali lipatnya.

brilio.net
brilio.net

Ruang Penyimpanan. Baik pada laptop maupun smartphone, ruang penyimpanan seringkali juga menjadi permasalahan.

Beberapa kali saya sempat mendapatkan curhat dari beberapa orang bahwa mereka tiba-tiba tidak bisa melakukan penyimpanan gambar dan video atau bahkan tidak dapat menggunakan kameranya padahal sebelumnya baik-baik saja dan memastikan bahwa di ponselnya pun telah dipasang juga sdcard yang daya tampungnya cukup besar. 

Setelah diselidiki ternyata sdcard-nya tidak berfungsi dan setelah dicabut dan dipasang kembali, semuanya pun kembali normal.

Khusus untuk laptop, ruang penyimpanan data sebaiknya dipisahkan dari OS-nya. Misalnya untuk laptop dengan OS Windows, buatlah partisi terlebih dahulu jika sebelumnya hanya tersedia drive C. 

Jangan meletakkan data penting pada drive yang digunakan untuk menjalankan OS. Tidak lain hal ini untuk menghindari jika sewaktu-waktu OS-nya error dan kita mesti meng-install ulang OS, data yang ada tidak ikut terhapus.

OTP. Beberapa aplikasi pada smartphone saat ini telah dilindungi juga dengan OTP. OTP adalah sebuah kode yang biasanya dikirimkan melalui sms atau email yang kemudian wajib kita masukkan untuk dapat masuk ke atau meruskan proses pada aplikasi tersebut.

Banyak orang, karena ketidaktahuannya, menganggap aplikasi tersebut error karena tidak mengetahui tentang ihwal OTP tersebut. 

Terlebih, jika simcard yang digunakan untuk menerima sms OTP tidak terpasang pada perangkat di mana aplikasi berada.

Jika simcard yang digunakan untuk menerima sms OTP terpasang pada ponsel yang sedang digunakan, biasanya pengisian OTP akan otomatis, meski tidak semua aplikasi pun demikian, tetap harus memasukkan OTP secara manual.

Posisi Simcard. Pada smartphone yang memungkinkan dipasangnya lebih dari satu simcard, pastikan untuk simcard yang nomornya telah kita daftarkan pada aplikasi, posisinya tidak kita ubah. 

Karena beberapa aplikasi, misalnya mobile banking, akan tidak dapat dibuka jika simcard nomor yang telah didaftarkan tidak ditemukan pada posisi saat didaftarkan (biasanya harus pada posisi pertama).

Demikianlah, sebelum kita mengajarkan tentang penggunaan WhatsApp, Telegram, dompet digital, medsos, mobile banking dan aplikasi-aplikasi lainnya, hal-hal dasar seperti tersebut di atas, sudah kita beritahukan pula. Juga tentang perawatannya. 

Ajari juga untuk bisa mencari solusi secara mandiri misalnya dengan googling atau setidaknya bertanya ke orang lain sebelum mengambil tindakan atas error atau kerusakan yang ditemukan. 

Karena kadang penyebab error atau tidak berfungsinya perangkat kita hanya disebabkan oleh hal sepele namun karena ketidaktahuan dapat menjadi bencana besar. 

Apriori

Kedua, sikap apriori atau penolakan. Seringkali orang merasa tidak pede untuk menggunakan atau beralih ke hal-hal baru. Terlebih jika mereka sudah merasa nyaman dengan menggunakan perangkat sebelumnya. 

Misalnya orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan ponsel jadul (yang hanya bisa untuk melakukan panggilan telpon dan sms), saat ditawarkan untuk menggunakan smartphone biasanya langsung melakukan penolakan karena merasa akan tidak bisa menggunakannya.

Sikap tidak pede inilah yang seringkali menjadi penghalang terbesar. Orang-orang yang seperti ini biasanya agak susah kita ajari, meski tidak menutup kemungkinan saat mereka telah menguasai, mereka pun akan lebih mahir dari kita.

Mudah-mudahan bermanfaat. Salam.

Simak juga artikel tentang solusi pembayaran terkini dari KBC-43:

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun