Hujan di awal September nyatanya berkenalan dengan airmata
Pertemuan awal yang seharusnya saling ramah menyapa
Justru malah berjabat dengan duka
Hujan di awal September membawa sejuk namun membuat mata ini sembab
Sumber air yang harusnya bertambah justru terkuras tanpa sisa
Angin yang seharusnya menenangkan kegersangan jiwa justru malah memporak porandakan rasa
Nyaring tetes demi tetes air hujan justru membuat sebuah nada sendu
Bau tanah yang seharusnya lebih wangi dibanding harum kamboja
Justru membuat dada ini semakin sesak
Kenapa?
Hujan, kenapa pertemuan kita harus diwarnai dengan hiruk pikuknya dunia dengan segala kerusuhannya
Di sana-sini manusia sibuk mencari harga dari dirinya
Rasa empati nyatanya sudah larut di aliran sungai keruh itu
Rasa sayang sudah hilang menggandeng rasa hormat yang pasrah saja diajak
Manusia sudah tidak lagi mengenal kualitas, harta lah yang menjadi tolak ukur penilaian
Yang berharta yang pantas dipuja
Dan yang tak punya hanya menjadi alas mereka berjaya
Manusia sudah tak lagi saling peduli
Individualisme tertawa di atas singgasananya
Hanya kepentingan diri sendiri yang jadi prioritas
Tak ada peduli dengan nasib insan lain
Airmata orang-orang susah hanya sebatas lelucon saja
Manusia kenapa sesombong ini?
Toh sama-sama akan kembali ke tanah
Sampai kapan ketidaknyamanan ini menyebar dimana-mana?
Sampai suara sangkakala terdengar?
Hujan, boleh minta tolong?
Temani aku mengawali perubahan ini ya!
Aku tak ingin bumi semakin menciut terinjak kesombongan penghuninya yang berjenis manusia.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H