Hari masih pagi ketika kulangkahkan kaki
Kuseret langkah setapak sambil kubisikkan raguku
Anakku,
Kusemai benih di ladang benakmu, kusiram tanah di ladang kalbumu, kupupuk ilmu di urat nadimu.
Tapi, akankah berbekas telapak tanganku di pagimu,
akankah mengalir mimpi-mimpiku di harimu...
Hari masih pagi ketika kubisikkan tanya lagi padamu
Anakku,
tergambarkah anganku di benakmu?
tergoreskah penaku di kalbumu?
Hanya kau yang dapat menjawab waktu.
----
Berjalanlah anakku
Teruslah berjalan
Tak perlu berjalan lurus ke depan,
Karena berjalan lurus ke depan tak membuatmu sampai di mana pun
Kau harus agak belok ke kiri di ujung perempatan...
Kadang kau harus menengok ke atas
Ke burung elang dan awan
Sesekali berhenti sebentar, akan membuatmu teringat angin dan rerumputan yang telah kau tinggalkan
Anakku teruslah berjalan
Tapi, Jangan ragu untuk mundur sebentar, memberi jarak untuk hatimu
Kan kau temukan celah di sana,
di atas puing itu ada sekuntum bunga berduri tiga, memberimu secercah kenangan tak terhapuskan
Kelak, akan kau temukan secangkir madu di jalanmu.
Anakku, hidup bukanlah hitam dan putih
Maka kau harus mengenal semua warna
Tidak perlu menjadi pelangi...
Cukup mempunyai mata hati.
Anakku,
Ibu ingin kau dapat terbang jauh mengangkasa
Tapi Nak,
Simpanlah satu saja bulu sayapmu
Agar ibu dapat tetap menggenggamnya
Agar ibu dapat terus merasa kau ada dekat
Agar ibu dapat yakin kau akan hinggap
Suatu saat....kelak.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI