Mohon tunggu...
Dhevi Anggarakasih
Dhevi Anggarakasih Mohon Tunggu... Wiraswasta - Dhevi Anggarakasih

Just want to be the best version of me

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Ally - All These Lives, Ketika Ketidakberadaan Menjadi Sesuatu yang Pasti

23 Februari 2015   06:47 Diperbarui: 17 Juni 2015   10:41 27
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Apa yang kau rasakan ketika "ketidakberadaan" mengambil moment-moment penting dalam hidupmu?

Apa yang kau pikirkan ketika "ketidakberadaan" menghadirkan orang-orang yang kau cintai dan membuatnya menghilang dari kehidupanmu dalam sekejap?

Ketakutan, kebingungan sekaligus rasa was-was tentunya.

Begitulah yang terjadi pada seorang Alison Lancester - Ally, saat  tiba-tiba saja "ketidakberadaan" menyentuhnya untuk pertama kali saat dirinya masih seorang gadis kecil berumur sepuluh tahun. "Ketidakberadaan"  tiba-tiba saja memberikannya seorang adik bernama Albert, dan melenyapkannya beberapa tahun kemudian saat dia begitu menikmati menjadi seorang kakak..

Saat kemudian "ketidakberadaan" tiba-tiba saja memberikannya seorang kekasih dalam perjalanannya menerima "ketidakberadaan", dan melenyapkan beberapa tahun kemudian saat Ally sudah merasa mampu menerima "ketidakberadaan" itu dalam hidupnya sekaligus mengembalikan sang adik dalam hidupnya!

Andai saja Ally memiliki kemampuan seperti Tim Lake dalam film About Time, yang bisa memutar waktu berulang-ulang untuk memperolah kesempatan yang sempurna bertemu pujaan hati dan menciptakan moment terbaik dalam kehidupan mereka..Andai saja Ally memiliki keahlian seperti Henry De Tamble  - tokoh utama  The Time Traveler's Wife, yang bisa berpindah ke berbagai tempat di berbagai belahan dunia sesuai kehendaknya dan melakukan berbagai tindakan heroik, mungkin hidup Ally tidaklah serumit ini.

Ally bukanlah Tim Lake maupun Henry De Tamble, dia tidak bisa menentukan kapan "ketidakberadaan" akan menyentuhnya. Dia tidak bisa memilih dimana "ketidakberadaan" akan terjadi. Ally hanya tahu  "ketidakberadaan" tidak pernah membuatnya berubah, melainkan moment-moment dalam kehidupannya. Melainkan orang-orang terdekatnya.

Merasa mulai putus asa dan selalu merasa ditinggalkan, Ally melakukan berbagai riset dan perjalanan untuk lebih mengerti tentang "ketidakberadaan" yang menempel padanya.
Mendatangi banyak psikiater dan psikolog, berdialog dengan ahli fisika kuantum pencetus "Dunia Banyak" serta melakukan perjalanan spiritual ke Kulanthpitha di lereng pegunungan Himalaya. Ally berjuang untuk mengembalikan moment-moment berharga bersama orang-orang tercintanya yang telah diambil secara paksa oleh "ketidakberadaan."

Akankah Ally berhasil mencapai tujuannya? Akankah Ally berhasil mengalahkan "ketidakberadaan" ?
Hm, kita lihat saja nanti. Yang jelas novel karya Arleen Alexandra ini akan membuatmu penasaran tingkat dewa sampai akhir seperti yang sudah terjadi pada saya saat ini. :D

Hav a nice reading

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun