Banyak yang bilang seorang anak yang ayahnya cukup terpandang di desa itu akan terjamin bahwa dia akan mendapatkan kesuksesan sama seperti orang tuanya, banyak yang bilang anak dari orang tua yang sangat berpengaruh di desa hanyalah seorang anak yang manja karena kekayaan orang tuanya dan banyak yang bilang seorang cucunya penasehat desa sangat dihormati di desa tersebut sangat enak, kekayaan pasti, sekolah pasti, duit banyak. jujur hal itu tidak berlaku di kehidupan seseorang seperti aku. Lahir dari pasangan suami istri abdi negara tidak membuat aku tau buat apa aku hidup. Aku sekolah semaunya, ngehamburkan duit sepuasnya, terjebak pergaulan bebas tidak membuat diri ini insyaf. Entah kenapa dulu kehidupan kelam itu sangat asyik. Tidak memikirkan apapun yang penting hepi. tidak peduli masa depanku seperti apa nantinya. sungguh bodoh tapi asik.
cerita dimulai pada saat 2016 ketika awal perpisahan SMA. Jaman dimana semua mengubah diri ini ingin menjadi apa. Pada saat itu timbul semacam kekhawatiran hidup yang sangat mengganggu semacam penyesalan karena tidak melakukan persiapan apapun seperti siswa yang pada umumnya melakukan persiapan masuk perguruan tinggi negeri. yah pada saat 2016 sangat booming dan terkenal yang namanya sbmptn. siswa-siswa di SMA sangat antusias dengan mengikuti sbmptn ini, yah termasuk aku bersama 1 orang rekan bernama Adi Nugroho dengan hanya bermodal nekat membawa uang 1 juta pergi ke bandung untuk mengikuti tes sbmptn. aku bersama kawanku Adi Nugroho kami berantusias pergi ke bandung untuk mengadu nasib. dengan bermuka polos dan minim pengalaman kami berangkat untuk mengarungi kehidupan keras di bandung. dari Tasikmalaya kami tempuh ke bandung selama 5 Jam Yah pada saat itu kami hanya memikirkan bagaimana bisa kami lulus di PTN favorit impian kami Aku di Unpad sedangkan Adi di ITB. memang perjuangan tidak mudah tapi disitulah awal dimana aku sendiri merasa menyesal karena tidak tau apa yang harus dilakukan. pada saat hari tes aku dengan yakin menjawab semua pertanyaan tes yang diberikan dengan harapan yang sangat tinggi bisa lulus, Namun ada satu hal yang membuat aku berpikir untuk tidak melanjutkan tes itu.
tepat pada saat tes sbmptn itu di lokasi SMP kartika yang terletak di dekat gor siliwangi bandung pada saat jam istirahat aku bertemu dengan seorang perwira TNI yang berdinas di Ajendam kodam siliwangi yang turut andil membuka pandangan hidupku ingin menjadi apa.
.
.
.
bersambung
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H