Mohon tunggu...
Dhanang DhaVe
Dhanang DhaVe Mohon Tunggu... Dosen - www.dhave.id

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Serepih Nirwana di Sulawesi Utara

20 April 2015   11:28 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:53 433
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_411329" align="alignnone" width="640" caption="Pulau Racun, salah satu titik penyelaman di Teluk Buyat (dok.pri)."][/caption]

Hari kedua, saya berada di mess PT. NMR di Ratatotok-Sulawesi Utara. Hal yang paling berat bagi saya adalah memulai hari, karena harus sarapan di mess. Sebuah piring lebar yang tidak terisi penuh dengan nasi, sayur dan lauk adalah tantangan saya untuk memindahkannya dalam lambung. Hidup dan besar di pulau Jawa-Solo dan tidak terbiasa dengan cabai, maka setiap kali makan saya selalu terharu. Air mata, keringat dan kadang ingus keluar bersamaan, hanya teh panas yang membantu mengurangi kadar pedasnya capsiasin. Semua masakan keseluruhannya pedas, tetapi sebentar lagi saya akan merasakan manisnya bibir nona Manado.

[caption id="attachment_411330" align="alignnone" width="640" caption="Pagi menjelang, terlihat di depan adalah pulau putus-putus yang nanti akan diselami (dok.pri)."]

1429503687256246870
1429503687256246870
[/caption]

Pak Willy, dive master dari PT.NMR meminta segera bergegas untuk segera naik perahu. Jika lewat jam-jam tertentu arus di perairan Teluk Buyat dan Laut Ambon bisa berubah dan bisa berbahaya bagi yang hendak turun ke laut. 2 mesin 250 PK sudah dinyalakan dan saatnya membelah perairan di Teluk Buyat. Batu-batu gamping yang menjulang tinggi dan warna air  laut yang hijau tosca di tepianya berubah menjadi buih-buih putih manakala speed boat yang kami tumpangi menghempasnya.

Tujuan pertama adalah menuju Pulau Racun. Pikiran saya langsung menuju sasaran bak anak panah yang melesat ke tahun 2005-an manakala merebak kasus pencemaran perairan Buyat. Pada tahun tersebut Walhi mengajukan gugatan pada PT.NMR karena terjadi paparan arsenik dan merkuri di teluk Buyat. Dugaan LSM tersebut diperkuat karena perusaan tambang membuang limbah tambang/tailing di perairan buyat. Namun, kasus tersebut akhirnya selesai di tahun 2012, dan Mahkamah Agung diputuskan menggugurkan segala gugatan karena tidak terbukti.

[caption id="attachment_411331" align="alignnone" width="640" caption="Perairan pulau racun, tak sengeri namanya (dok.pri)."]

142950376772417375
142950376772417375
[/caption]

Pada tahun 1997-1998 tim dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-Unsrat melaporkan adanya kerusakan terumbu karang di Teluk buyat. Kerusakan tersebut dikarenakan elnino dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Sejak itu maka dibuatlah kerja sama untuk menyelamatkan teluk buyat dari rusakanya perairan. Bola-bola dari betin seberat 260 kg dan 600 kg ditanamkan di dasar perairan. Reef ball demikian nama perlakuan tersebut yakni untuk menciptakan terumbu karang buatan. Bola-bola raksasa tersebut akhirnya mulai perlahan dihuni oleh biota lain, dan kini setelah 16 tahun saya hendak melihat rumah baru penghuni teluk buyat.

Perlahan speed boat sudah berhenti disebuah pulau karang yang oleh pak Willy menyebutnya sebagai pulau racun. Anak panah saya ternyata melesek dari sasaran. Dia mengatakan tidak tahu mengapa disebut pulau racun, konon katanya dulu banyak terumbu karang yang rusak karena ada aktivitas yang tak ramah lingkungan. Namun, terumbu karang di pulau racun cepat sekali pulih karena adanya pergerakan nutrisi dari arus hangat dan dingin antara teluk buyat dan laut ambon. Setelah memberikan instruksi di area mana saja kami boleh masuk dalam air, maka pak Willy mejadi orang pertama yang masuk dalam air.

[caption id="attachment_411333" align="alignnone" width="640" caption="Jembatan bawah air adalah salah satu spot menarik Pulau Racun (dok.pri)."]

14295038161606654177
14295038161606654177
[/caption]

Saat yang lain berloncatan dari kapal, saya merambat pelan-pelan dari tangga kapal, "dasar orang solo, apa-apa serba kalem" teriak salah satu teman yang melihat gaya saya turun ke laut. Begitu mata ini melihat dasar laut, terlihat jelas beberapa tumbu karang yang warna-warni. Andai saya belajar biologi kelautan, maka bisa berlama-lama di sinu untuk berkenalan dengan biota endemiknya. Karang keras dan lunak silih berganti menempek di bebatuan, dan kada ada yang tumpang tindis satu sama lain, tak seperti yang di atas sana, lamun saya.

Pak Arie yang tiba-tiba muncul di bawah saya, sepertinya dia sudah mengambil napas panjang dan ancang-ancang. Spot menyelam yang paling terkenal di Pulau Racun adalah jembatan. Sebuah karang yang melengkung menyerupai jembatan yang dihiasai ornamen biota laut begitu menarik untuk di dekati. Di darat orang biasanya akan lewat di atas jembatan, tetapi di dalam laut kebalikannya. Dengan gesit pak Arie melewati dasar jembatan dan saya mengikutinya dari atas dengan kerakan yang kalem juga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun