Kalau ini terjadi, duuuh... malah diriku yang bakal dipermalukan oleh lingkungan!
Lagi pula, diriku gak mau membuat di luar sana jadi curiga. Kata Mama, kalau lagi bersin, tandanya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi orang-orang di sekitarku, bisa saja berpikir demikian.
Padahal, kan gak tahu, diriku sedang keluar, itu gak bisa menjamin! Bisa jadi, ada udara dingin yang mengenai, timbul reaksi, terus bersin. Kalau ketahuan terus tiba-tiba sakit gegara kehadiranku, saya yang bakal disalahkan oleh mereka, bahkan bisa beramai-ramai pula!
Terlebih, penyebaran virus korona bisa via droplet lewat batuk, berbicara, atau menguap, termasuk bersin, ditambah, sekali lagi, kita tidak tahu siapa di antara mereka yang membawa virus tersebut atau tidak. Duuh, ini gak bisa dianggap remeh!
Soal itu, apa yang kulakukan ini, jadi teringat pada orang-orang Jepang.
Menurut artikel yang saya baca, mereka menjadikan masker sebagai kebutuhan yang pokok dan penting, setara dengan nasi lah, hehe.
Pasalnya, sebagian besar di antaranya alergi serbuk sari yang baru tumbuh di musim semi. Di samping itu, pada musim dingin, mereka juga rentan terhadap influenza.
Tak heran, kalau mereka mengenakan masker sebagai proteksi untuk diri dan lingkungannya, apalagi kalau soal kesehatan yang bagi mereka, itu merupakan hal yang sensitif.
Hmmm, kalau orang Jepang yang punya alergi saja disiplin mengenakannya, harusnya diriku juga bisa. Bukan (hanya) karena taat di hadapan aparat, tapi untuk menjaga diri sendiri!
Demikianlah penjelasannya, salam Kompasiana!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI