Sama dengan Demi, penggambaran Bara sebagai sosok penulis kurang kuat. Ia kuliah di bidang keuangan, tapi kemudian memutuskan jadi seorang penulis tanpa informasi yang kuat melatarbelakanginya. Logat Daffa berbahasa Jawa juga nampak kaku, sehingga penggambaran Bara sebagai pria Yogya jadi kurang menyakinkan.
Dari segi cerita memang biasa saja, hanya memang cerita cinta semacam ini terasa realistis. Rasa suka dengan hubungan tanpa status membuat satu pihak yang berharap banyak jadi terluka.
Karena pemeran utama film ini adalah Lutesha, aku jadi merasa penasaran dengan film ini. Sejak melihat penampilannya di Keramat 2: Caruban Larang, aku jadi ingin melihat film-filmnya yang lain. Ia memang jarang gagal memberikan penampilan yang berkesan, meski sayangnya di film ini performa Lutesha tak begitu optimal. Daffa Wardhana sebagai pendatang baru juga tak mengecewakan.
Bagian paling menarik dari film ini adalah baris-baris kenangan yang ditulis oleh Bara. Puitis, meski sebagian besar terasa pilu dan mengingatkan pada puisinya eyang Sapardi Djoko Damono. Salah satunya seperti berikut ini:
"Aku ingin mencintaimu dengan keras kepala dan tanpa logika.
Kamu adalah segalanya yang bernama surga sementara.
Aku ingin dicintai seperti caramu merelakan yang tak bisa dimiliki.
Seperti saat kita berpisah
Seperti saat kita memutuskan untuk tak lagi bersama.
Aku ingin dicintai seperti caramu mencintai dirimu saat ini.
Dengan kebahagiaan yang tak pernah lagi aku miliki."
"Panduan Mempersiapkan Perpisahan adalah sebuah kisah cinta yang realistis. Baris-baris narasinya terasa puitis meski getir. Skor: 72/100
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H