Mohon tunggu...
Desy Marlinton
Desy Marlinton Mohon Tunggu... -

Berusaha menjadi pemikir yang serius namun ternyata tetap konyol\r\ntweet me : DMarlinton\r\nmy blog : www.desymarlinton-ceritaku.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Selingkuh

13 Januari 2012   07:15 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:57 285
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

SELINGKUH

Hawa dingin merambat masuk ke ruangan ini. Kegelapan malam hanya menambah kebekuan. Pukul empat pagi. Aku masih melihatnya terlelap dengan selimut menutupi kaki hingga perutnya. Rupanya hawa dingin tidak mengusik kenyamanan tidurnya. Ia malah membiarkan dadanya yang lebar itu telanjang dijilati dingin seperti orang kegerahan. Ya, mungkin ini efek dari pergulatan kami semalam.

Aku pandangi lagi laki-laki itu. Laki-laki yang terbaring tenang di tempat tidurku. Aku tersenyum sesaat, kemudian mengambil kimono untuk membungkus tubuhku dan bergegas keluar dari kamarku yang mulai terasa sumpek tanpa aku tahu sebabnya. Padahal, semua sama saja seperti 17 tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah, hanya saja hawanya memang terasa berbeda. Atau mungkin hanya perasaanku saja.

Entah. Ini entah sudah yang keberapa kalinya. Semenjak aku mengenalnya. Hampir setiap hari dia kesini. Tepatnya hampir tiap malam. Ya, dalam seminggu paling tidak dia sekali kesini. Disini kami berbagi, bercanda, tertawa, bahkan bercinta. Dan tidak ada satu orangpun yang tahu.

Laki-laki yang terlelap di tempat tidurku itu namanya Yus. Yus adalah seorang laki-laki bertubuh tegap, sedikit buncit dan wajahnya cukup tampan untuk laki-laki usia 45 tahun sepertinya. Dan ia single. Sudah 12 tahun aku mengenalnya, sejak bekerja di perusahaan yang sama dengannya hingga ia menjadi atasanku kini. Awalnya kami satu divisi dan bersahabat. Yus sangat mengerti aku, ia selalu mau mendengarkan segala keluhanku. Apapun itu. Masalah pekerjaan maupun masalah pribadi. Karena itu aku sangat membutuhkannya. Tapi, aku merasa itu bukan cinta.

Aku sandarkan tubuhku di sofa ruang tengah.Aku pandangi kemegahan rumah yang dihadiahkan seseorang yang entah sekarang masih kucinta atau tidak. Suamiku. Suamikulah yang menghadiahkan rumah ini padaku sebagai hadiah pernikahan kami 17 tahun yang lalu.

Aku pandangi langit-langit di ruang tengah yang tinggi ini. Kuhisap dalam-dalam rokok yang baru saja aku nyalakan. Rasanya, tiap kepulan asap yang kuhirup sedikitnya agak menenangkan pikiranku, walau aku tahu sebenarnya itu adalah racun. Kembali aku mengingat kebersamaanku dengan suamiku.

“Ma, Papa harus ke Singapur besok. Lusa juga sudah pulang. Mama mau oleh-oleh apa?”. Aku masih ingat penggalan percakapan kami di ruang makan saat sarapan dua hari yang lalu.

Tuhan, mengapa aku harus hidup begini? Aku memiliki suami tapi seolah-olah aku tidak memilikinya. Pernikahan kami bahagia hanya dalam waktu lima tahun saja. Mungkin karena aku tidak bisa memberinya seorang anak. Entah. Kadang sering terbesit rasa ingin bercerai, tapi entah apa yang membuatku takut untuk melakukannya. Perasaan bersalah karena mandulkah itu? Entah.

Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya suamiku lakukan selama ini. Berbulan-bulan ke luar negri, ke luar kota, selalu sibuk, aku tidak tahu. Sesekali aku bertanya pada sekretarisnya Nina. Menurut Nina semuanya baik-baik saja. Sesekali terlintas pikiran yang macam-macam. Nina mungkin saja menutupi kebohongan suamiku selama ini, atau bahkan ia bagian dari kebohongan tersebut. Nina simpanannya. Nina memiliki benihnya. Nina istrinya.

Alunan melodi mencintaimu dari Krisdayanti tedengar dari handphone-ku. Aku tahu, itu pasti telepon dari suamiku. Itu adalah ringtone khusus untuknya.

“Sayang, maaf ya! Papa harus langsung ke Jepang hari ini, jadi mungkin baru besok bisa pulang. Papa janji akan langsung menemui Mama begitu sampai. Maaf ya sayang… I love you.” Ya, aku sudah tahu itu. Nina sudah bilang kalau mereka akan berangkat ke Sidney tiga hari sebelum mereka berangkat. Sidney atau Jepang…Ah, entahlah!.

Tak kuasa, butir kristal meleleh membasahi pipi. Kuhisap dalam-dalam rokokku di hisapan terakhir sebelum aku matikan. Hingga akhirnya ku jejalkan puntung rokok yang ke tiga itu ke dalam asbak. Dan air mataku semakin membanjiri wajahku.

“Tenang, sayang! You’ll be fine” Yus memelukku erat.

Bandung, Maret 2006

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun