[caption caption="Ilustrasi: mymodernmet.com"][/caption]Mencari kasihmu
Telusuri jalan berliku
Turuni tangga berbatu
Teriring tatapmu
Katamu. Itu katamu. Yang berpura-pura mencari kasih. Berpura-pura terluka. Berpura-pura untuk tidak kurang ajar.
Muak! Sungguh aku muak dengan bibirmu yang mirip kloset. Setiap kata-katamu begitu menjijikkan.
Lebih baik kuremukkan tulang kakimu untuk makan malam para anjing.
Hahaha!
Sejuk embun di bening matamu
Melebur dalam dekap jiwamu
Bersama jejak cumbu pada tubuhku
Jangan anggap tatapmu adalah yang paling suci. Mata-mata yang sesungguhnya terlahir dari neraka. Mata-mata yang gerogoti jiwa. Mata-mata yang menjadi ular. Memagut. Meracun. Mematikan.
Jiwa-jiwa yang terdekap. Jiwa-jiwa yang terpasung. Jiwa-jiwa yang terpancung. Jiwa-jiwa yang kehilangan kepalanya. Menggelinding. Memisah dari tubuh yang menghamba pada jejak cumbu.
Peluk…peluklah aku
Dalam bayang belai jemarimu
Kecup…kecuplah bibirku
Senandungkan simponi rindu
Hingga tertidur aku di pangkuanmu
Terpeluk kau! Terpeluk!
Membelai tubuhmu yang busuk.
Terkecup kau! Terkecup!
Senandungkan kematianmu.
Tidur…tidurlah kau di pangkuanku, biar kuukir wajahmu dengan belati merah jambu milikku. Izinkan aku memutus urat-urat dosa pada tubuhmu. Izinkan aku memotong jemarimu yang kerap mencuri rindu pada kedua mataku. Izinkan aku menelan jantungmu yang sekarat itu!
-oOo-
*bersama Bunda Syafni Nengsih
*karya ini diikut sertakan dalam Bulan Kolaborasi RTC
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI