Mohon tunggu...
desinatalia
desinatalia Mohon Tunggu... Guru - mahasiswi

Berkebun

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Toleransi Beragama

29 November 2024   20:51 Diperbarui: 29 November 2024   20:51 44
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Toleransi dalam konteks agama diartikan sebagai kebebasan masing-masing individu untuk menganut agama apa pun yang diyakininya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diatur dalam undang-undang atau konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun setiap agama meyakini bahwa hanya ia satu- satunya agama yang paling benar, akan tetapi di saat yang sama, setiap pemeluk agama harus saling menghormati

Menjunjung sikap toleransi beragama menjadi sangat penting, khususnya di Indionesia. Beberapa yang terkait toleransi di antaranya adalah:

Pertama, tidak ada paksaan dalam beragama

Islam adalah agama rahmatan lil alamin, mengandung arti bahwa Islam harus menjunjung tinggi rasa kasih sayang dan tenggang rasa. Dalam persoalan agama, Islam tidak memaksa orang lain untuk beragama Islam, yang perlu dilakukan hanya mengajak untuk bergama Islam. Artinya tidak memaksa kepada orang yang diajak, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Hanya mengajak, tidak mengejek dan memaksa. Allah berfirman:

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْم

’’Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.’’ (QS Al-Baqarah: 256)

Kedua, penghormatan terhadap eksintensi agama lain

Ketika seseorang sudah beragama lain atau non muslim, sebagai Muslim, tidak dibenarkan melecehkan, mengolok-olok atau menyalahkan, dan merendahkan agama lain. Biarkan orang lain menganut agamanya dengan baik menurut mereka, tidak boleh diganggu. Berikan kesempatan dan kedamaian orang yang beragama lain menjalankan ibadahnya. Begitu juga kita sebagai Muslim untuk menjalankan agamanya dengan baik dan benar menurut agama kita sebagai seorang Muslim. 

Allah berfirman:

 قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ . لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ.  لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang kafir!. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS Al-Kafirun 1-6)

Ketiga, kebebasan memilih dan menentukan keyakinannya

Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia memiliki prinsip hidup masing-masing. Karenanya sebagai mahluk sosial, kita harus mengerti dan saling memahami hal tersebut. Bisa terjadi salah paham, jika salah memahami dan mengartikannya. Oleh karena itu kita sebagai umat Islam harus berusaha mengerti dan memahami sikap tasamuh atau toleran dalam kehidupan masyarakat agar tidak menimbulkan gejolak dalam masyarakat, mengingat masyarakat Indonesia berlatar belakang etnis, budaya, suku, dan yang berbeda beda.

Soal keyakinan, sebagai bangsa Indonsia juga harus menghormati keyakinan orang lain agar tidak ada kerusuhan terkait perbedaan keyakinan baik dari agama, budaya, maupun kepercayaan. Allah berfirman:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْۗ فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْۚ اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًاۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَاۗ وَاِنْ يَّسْتَغِيْثُوْا يُغَاثُوْا بِمَاۤءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِى الْوُجُوْهَۗ بِئْسَ الشَّرَابُۗ وَسَاۤءَتْ مُرْتَفَقًا 

’’Katakanlah (Nabi Muhammad), kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka, siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman dan siapa yang menghendaki (kufur), biarlah dia kufur. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang dzalim yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (dengan meminta minum), mereka akan diberi air seperti (cairan) besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) seburuk-buruk minuman dan tempat istirahat yang paling jelek.’’ (QS Al-Kahfi 29)

Keempat, berbuat adil kepada siapa pun tanpa memandang agama

Adil adalah meletakkan seseuatu pada tempatnya dan proporsinya. Lawan dari adil adalah dzalim. Manusia yang baik akan bisa berbuat adil baik kepada dirinya, keluarganya, maupun orang lain. Jika kita tidak berbuat adil, bisa jadi condong berbuat dzalim. Jika kita sudah berbuat dzalim, maka akan menerima akibat dari berbuatan dzalim yang sudah dilakukan. Jika perbuatan adil sudah dan terus dilakukan, maka akan banyak menerima balasan atau efek yang didapatkan. Dengan begitu, maka kita akan dapat menjalani kehidupan dengan nyaman, aman, dan tentram.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اِعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللّهَ ۚ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.’’ (QS Al-Maidah: 8)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun