Mohon tunggu...
Demadi
Demadi Mohon Tunggu... -

Habis tangis, kering tawa. Jejak perjalanan. Serpihan-serpihan. Dihidangkan.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Infrastruktur yang Tak Dirindukan

6 Maret 2018   04:30 Diperbarui: 6 Maret 2018   08:48 688
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

(Sumber gambar : Antara News)

Hanya sedikit nurani untuk merasakan keperihan dibalik pagar halaman, rumah makan yang tutup. Sudah lama tutup. Lapuk dan berdebu. Perlahan akan menjelma reruntuhan sahaja. 

Sebuah spanduk lusuh dibentangkan dan tertulis: dijual.

Jalan pantura yang lengang. Kemanakah mereka? Aroma ikan bakar yang dulu pernah sedap. Bocah-bocah yang berlari di antara kerumunan dan piring-piring. Sendok beradu. Mushola kecil tempat kita bersujud  dan bersimpuh, bila lelah batin menempuh perjalanan.

Itu baru restoran. Warung besar dimana memang ada seorang kaya pemiliknya. Sekaligus sumber kehidupan bagi puluhan karyawannya. Kaum yang pernah dinamakan wong cilik. Tak nampak juga warung-warung kecil. Tempat wong cilik lain mencari makan dengan mengandalkan keramaian. Mereka pun punah, menyusul Dinosaurus.

Seiring hilangnya kendaraan dan manusia yang melintas. Karena sudah ada jalan baru yang bernama : jalan tol. 

Ketika bisnis onlen belakangan sedang kebanjiran traffic. Mereka, warung-warung itu, tak ada lagi traffic.

Akan tetapi memprotes pembangunan-pembangunan yang progresif itu, seketika seseorang dianggap kuno. Menolak kemajuan. Tidak jaman now.

Jaman now adalah, kematianmu adalah kematianmu sendiri. Seperti tahun empat puluhan saat Chairil kata, hidup adalah kesunyian masing-masing. Tidak, hidupmu tidak sunyi melainkan dingin. Seperti kolam di halaman itu. Yang sudah ditinggalkan dan hanya dihuni anak-anak katak. Dan mereka mati karena hatimu yang dingin itu. 

Ribuan kilometer jalan agung telah dibangun di atas kampung-kampung. Dan sawah yang terbelah. Rumah pisah. Kami jauh bila harus menengok Simbah. Di pinggirannya penuh deru dan debu.  Yang dikatakan sebagai efisiensi. Sepanjang tidak tinggal di tepiannya.

Terutama bagi Fulan bin Fulan. Toh dia suka bakar bensin. Biar tidak boros karena kemacetan. Kan tinggal isi kartu. Di atas kendaraannya yang dimuati satu. Padahal isinya bisa tujuh. Kalau tidak percaya, cobalah berdiri di pinggir dan kau lihat isi kereta-kereta besi itu. Kebanyakan isinya satu. Tapi jangan tanya ahli statistik. Nanti kamu disanggah dengan ngelmu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun