Mohon tunggu...
Ade Ayu Astuti
Ade Ayu Astuti Mohon Tunggu...

Assalamu'alaikum Ahlan wa sahlan Persaudaraan kita diawali oleh perjumpaan karena Allah Perlahan berubah menjadi sahabat Dan hanya kan berakhir karena Allah SWT. ana uhibbukum fillah hatta fil jannah abadan abada, ^_^

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Mentari Bunda (Makna Sebuah Nama)

17 April 2016   22:16 Diperbarui: 17 April 2016   22:31 35
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Samarinda, 20 Mei 2010
“Uun, ayo nak. Ini hari pertama kamu masuk sekolah disini.” Teriak bu Nur.
“Iya, bunda.” Sambil mengunyah roti.
“Bunda, kalau disini jangan panggil saya Uun. Saya malu bu. Nama itu tidak bagus bu seperti nama pembantunya tante Mayang di Malang.” Keluhnya pada ibunya.
“Jadi, kamu mau dipanggil apa de? Siapa yang bilang namamu tidak bagus?.” Jawab Bu Nur sambil mengusap rambut Uun.
“Pokoknya aku tidak mau dipanggil Uun aku hanya mau dipanggil Liya bu.” Ucap Uun sambil melipat tangannya.
“Iya anak bunda yang paling cantik”.
“Uun, bangun nak kita sudah sampai di Malang.”Ucap Pak Ramdhan sambil menepuk bahu Uun.
“Kita sudah sampai ya paman?”
“Iya, un. Cepat kamu cuci wajahmu”
“Iya paman.” Jawab Uun Ternyata itu hanyalah mimpi. Itulah perbincangan terakhirku dengan bunda. Setiap mengingat perbincangan itu, aku selalu menyesali keegoisanku.
Namaku Zahrunnisa Nuraliyah Putri. Bunda selalu memanggilku Uun, katanya bagi Bunda itulah nama terindah yang pernah ada. Sejak kecil aku menyukai panggilan itu. Namun, sejak aku pindah ke Malang. Aku begitu membenci nama itu.
“Uun. Seperti nama pembantuku saja. “ Ucap Maya kepadaku.
“Pembantu masih terlalu bagus. Nama itu seperti nama kucingku.” Ucap Rani sambil tertawa.
“Maya, kenapa kamu selalu mengejekku? Padahal aku tidak pernah berbuat salah padamu” Tanya Uun.
“Karena, kamu memang tidak pantas sekolah di sini.”Jawah Maya sambil mendorong Uun.
Sejak kejadian itu aku sangat membenci nama Uun. Bahkan saat bunda memanggilku dengan nama itu. Aku selalu memarahinya.
“Permisi, Selamat Sore. Apa benar ini rumah Bu Nur? “ tanya seorang ibu.
“Iya, benar. Saya Liya anaknya.Ada apa ya bu?” tanya Liya dengan wajah khawatir.
“Liya, tadi ibumu kecelakaan di stasiun kereta. Beliau langsung meninggal ditempat. “
“Ibu pasti bohong. Tadi Bunda bilang bunda mau kerumah paman sebentar. Tidak mungkin bunda meninggal.” Jawab Liya sambil menghardik ibu tersebut.
“Tidak, nak. Ibu tidak bohong. “
21 Maret 2010
Hari itu aku melihat bunda untuk yang terakhir kalinya. Pak Ramdhan kakak bunda datang untuk mengajakku kembali ke Malang, karena sekarang aku sendirian tinggal di Banjarmasin. Paman juga menjelaskan kepadaku kenapa bunda memberiku nama itu.
“Uun sayang. Ibumu pernah berpesan apabila terjadi sesuatu pada beliau, om berkenan mengurusimu serta memberitahumu mengenai makna namamu yang sebenarnya.Uun kenapa kamu membenci nama itu? Apakah ada yang salah dari nama itu?” tanya Paman.
“Tidak paman. Nama itu tidak salah. Hanya saja Uun malu dengan nama itu. Uun selalu diejek teman-teman. “ Jawah Uun.

“Uun bagi ibumu, kamu adalah permata hatinya. Kamu tentu tahu bukan, ayahmu meninggal sejak kamu dilahirkan. Nama itu adalah nama pemberian ayahmu. Ayahmu berharap kamu akan menjadi wanita yang hebat dan memiliki pesona hati bersinar.Pernikahan ibu dan ayahmu tidak direstui oleh orang tua ibumu. Bahkan, sewaktu ibumu mengandungmu orang tua ibumu meminta ibumu untuk menggugurkanmu. Namun, beliau tidak bersedia karena beliau sangat mencintaimu. Uun kamu adalah harapan orang tuamu untuk menjadi wanita yang tangguh dan senantiasa menebarkan kebahagiaan bagi orang-orang disekitarmu. Uun janganlah kamu membenci nama itu. Bagi ibumu kamu adalah mentarinya Zahrunnisa Nuraliyah Putri.”

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun