Hidup dalam kegelapan tanpa cahaya tidak hanya akan membuat langkah kita tersaruk-saruk tanpa arah, tetapi juga membuat langkah kita tersaruk-saruk menabrak kesana kemari. Karena selain tidak memiliki panduan melangkah, orang pun tidak mempunyai kekuatan bagaimana melangkah dengan baik. Tetapi sebaliknya, hidup berlimpah cahaya pun tidak selalu menjadi jaminan langkah kita akan lurus dan terarah. Karena keberlimpahan cahaya selalu membuat mata kita menjadi silau dan tidak menjadi modal untuk bisa menuntun langkah menjadi lebih terarah.
Bila kegelapan adalah analogi dari kemiskinan dan cahaya adalah analogi dari hidup penuh dengan kekayaan, maka begitulah kehidupan manusia. Kemiskinan selalu identik dengan kesusahan dan kesulitan melangkah. Kemanapun kaki melangkah, sepertinya akan salah dan selalu salah. Begitu juga sebaliknya. Keberlimpahan materi sering membuat orang kalap dan silau sehingga lupa pada tujuan awal melangkah. Kekayaan dan kemiskinan, atau gelap dan cahaya pada akhirnya sering berefek sama pada hidup manusia.
Karena manusia akan terjatuh karena kegelapan, juga terjatuh karena adanya cahaya, maka masalahnya bukan lagi antara mempunyai cahaya atau hidup dalam kegelapan, tetapi bagaimana caranya bangun dari setiap kondisi yang ada. Apakah bangun karena berada dalam kegelapan, atau bangun karena mata kena silaunya cahaya.
Di sisi lain, aktivitas manusia di dunia pastinya tidak pernah bisa dilepaskan dari upayanya untuk melepaskan diri dari belenggu materi. Melepaskan diri dari kekurangan dan kemiskinan menjadi orang berkecukupan atau berlimpah materi, adalah hakekat dasar aktivitas manusia. Tetapi setinggi-tingginya manusia beraktivitas untuk meraih itu semua, hakekat dasar hidup manusia tetaplah membutuhkan cinta, kasih sayang dan persahabatan. Materi menjadi nirmakna bila tidak diiringi ketiga hal terakhir tadi.
Kedua hal diatas, digambarkan dengan baik dalam film musikal The Greatest Showman ini. Sebuah film yang mengadaptasi tokoh Phineas Taylor Barnum (PT Barnum), salah satu pendiri pertunjukan sirkus terbesar di Amerika yang melegenda pada abad 18, Barnum  & Bailey Circus.
Barnum (Hugh Jackman) sendiri mempunyai masa kecil suram. Ayahnya seorang penjahit berasal dari kalangan bawah. Ketika ayahnya yang menjadi tumpuan hidupnya meninggal, hidup Barnum bertambah sulit. Dia harus mencuri makanan di pasar untuk menyambung hidupnya. Hubungannya dengan Charity (Michelle William) perempuan yang dia cintai pun mendapat rintangan yang cukup serius. Ayah Charity tidak mau anaknya menikah dengan Barnum yang miskin dan berasal dari kalangan bawah.
Kehidupan Barnum, mempunyai titik terang ketika dia mempunyai ide meminjam uang di Bank untuk membuat sebuah meseum yang berisi hal-hal unik. Tetapi ide ini tidak berjalan mulus pada awalnya. Sedikit orang yang mau berkunjung ke meseum yang dia dirikan. Ide cemerlang muncul dari kedua anak perempuannya. Keduanya menyarankan Barnum untuk mengisi meseum dengan sesuatu yang unik tetapi nyata. Dari sinilah Barnum teringat kembali masa kecilnya, ketika ada orang yang berparas aneh memberinya makan ketika dia lapar.
Berdasar pada ide anaknya itu, Barnum pun mengumpulkan orang-orang unik tapi memang ada di lingkungannya. Mulai dari perempuan yang bersuara bagus tetapi berjenggot seperti layaknya lelaki, lelaki yang sekujur tubuhnya dipenuhi tato sampai dengan laki-laki berumur 22 tahun tapi berbadan pendek layaknya anak-anak. Semua orang-orang tersebut dikumpulkan dan menjadi bagian show menghibur yang dikepalai Barnum.
Dalam mewujudkan ini, pastinya Barnum menghadapi masalah yang cukup pelik. Karena orang-orang unik itu adalah orang-orang yang berbeda dengan lingkungannya, mereka bukan hanya orang-orang yang ditolak keberadaannya oleh orang tua dan keluarganya tetapi juga oleh lingkungan sekitar. Karenanya meski dengan orang-orang unik itu Barnum bisa memberikan hiburan yang menyenangkan penonton, tetapi mereka tetap saja tidak bisa diterima di tengah masyarakat. Bahkan ada sekelompok orang yang secara konstan mengejek pertunjukan Barnum dan ingin mengusir orang-orang Barnum.
Tetapi masalah utama Barnum sepertinya bukan itu. Problem utama Barnum adalah ketika dia berhadapan dengan dirinya sendiri ketika kesuksesan mulai dia raih. Mertuanya yang dia tolak tetapi sudah mengakui dan mau menemui Barnum, dia tolak mentah-mentah di depan umum sehingga membuat istrinya yang setia ikut sakit hati.
Hal lainnya adalah ketika Barnum terpesona oleh Jenny Lind (Rebecca Ferguson), seorang penyanyi soprano dari Swedia. Barnum melihat bakat dan pesona dalam diri Lind dan ingin mengkapitalisasinya dengan merangkai sebuah tour show di Amerika. Karena tekad ini Barnum pastinya tidak hanya mesti meninggalkan keluarganya, tetapi juga sirkus yang sudah dia bangun dan menjadi titik awal kejayaannya. Istri Barnum yang setiap sudah mengingatkan bila Barnum tidak perlu melakukan itu karena pada dasarnya Barnum sudah memiliki semuanya. Seperti keluarga dan anak-anak yang mencintainya. Tetapi Barnum ngotot dan tetap ingin melakukan itu.
Barnum mulai silau dengan kesuksesan yang dia sudah dia raih. Lagu Not enough dalam drama musikal ini seolah menjadi gambaran apa yang menjadi obsesi dan dinamika dalam diri Barnum. Dia merasa ada lagi yang bisa diraih, melebihi apa yang sudah dia peroleh sekarang. Barnum ingin lebih dan lebih. Barnum silau dengan kesuksesan yang sudah dia dapat.
Selain hal diatas, mungkin diantara hal yang menarik dari film ini adalah ketika gedung sirkus kebakaran, bisnis Barnum jatuh dan Barnum kembali berkumpul dengan orang-orang unik-unik di sirkusnya. Orang-orang yang sempat dia tinggalkan karena ingin mengejar kesuksesan lebih dengan Jenny Lind. Padahal orang-orang itulah yang selama ini menjadi tumpuan Barnum membangun kejayaan.
Ketika itu Barnum sempat putus asa dan menyatakan kepada anak buahnya bila dia sudah tidak mempunyai uang lagi untuk membayar gaji mereka. Karena perusahaan sudah bangkrut. Tetapi respon anak buahnya cukup mengejutkan. Mereka mengatakan hal terbesar dan yang paling berharga bagi mereka di sirkus itu bukan uang. Tetapi ketika mereka seperti keluarga, diperlakukan sama layaknya manusia dan mempunyai peran. Karena diluar sirkus, mereka adalah orang-orang terbuang. Bukan hanya disingkarkan dan dianggap tidak ada oleh lingkungannya, tetapi juga oleh keluarganya. Keluarga, persahabatan, cinta dan kasih sayang lah yang menjadi landasan aktivitas mereka selama ini.Â
Banyak kritikus film yang melihat performa Hugh Jackman dalam film ini lebih baik dibanding film-film lainnya seperti di X-Man atau Wolverin. Jackman seperti tidak pernah lelah untuk terus bernyanyi dan menari sepanjang film. Karena konon pada dasar nya Hugh Jackman sendiri adalah seorang bintang panggung musikal yang mempunyai prestasi. Sehingga di film ini Jackman bisa lebih total dan lepas.
Drama musikal ini dipenuhi lagu-lagu cerita yang akan memuaskan. Karena pencipta lagu dalam film musikal ini juga pencipta lagu dalam film musical La La Land, Benj Pasek. Apalagi efek visual dan koreografinya. Kita seperti dibawa kepada pertunjukan sirkus sebenarnya yang memang wah dan menakjubkan.
Menurut BBC, The Greatest Showman adalah film yang layak menjadi hiburan ramah keluarga yang sopan dan bersih, tanpa seks atau umpatan dan sangat berhati-hati untuk tidak mengejutkan penonton.  Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI