Mohon tunggu...
Dedy Gunawan
Dedy Gunawan Mohon Tunggu... Freelancer - Suami dari seorang istri yang luar biasa dan ayah dari dua anak hebat.

Penulis, blogger, jurnalis, senimanmacro, fotografer, penikmat kuliner, traveler, guru, pelatih menulis, dan penyuka segala jenis musik.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Megalitikum, Zaman Sejarah

24 April 2015   21:29 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:42 325
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
14298856181965097785

[caption id="attachment_380011" align="alignright" width="300" caption="Prof. Dominik Bonatz, Arkeolog Jerman"][/caption]

TESIS tentang megalitikum sebagai penanda zaman prasejarah telah dipatahkan oleh sejumlah arkeolog. Tak kurang dari Prof. Dominik Bonatz, Arkeolog Jerman menemukan kesimpulan-kesimpulan baru dengan banyak bukti bahwa Megalitikum justru menandai sejarah peradaban manusia yang sudah mahir mendesain, mematung, mendekorasi, menjalankan sistem perpolitikan, menentukan batas teritorial, menjalankan sistem dagang, melakukan ritual kontak spiritual dan dan gigih dalam pelestarian alam.

Tak hanya Arkeolog Jerman, bahkan Arkeolog Sumatera Utara, Ketut Wiradnyana menambahkan, hasil eskavasi tim Balai Arkeologi Medan terbaru di Samosir menegaskan megalit di Sumatera relatif muda dan bukan menandai zaman prasejarah. Bahkan ada megalit yang berumur 50 tahun. Pentarikan megalith di Samosir menunjukkan usia batu besar ditaksir paling tua abad ke 14 atau 15 Masehi.

Dengan temuan itu, Bonatz pun berani mengeritik ketidaksesuaian kurikulum pendidikan Indonesia terhadap fakta sejarah. Kurikulum 2013 yang masih mengakui  megalitikum sebagai bagian dari zaman prasejarah, dianggap sebagai teori usang yang tak layak lagi untuk dipakai. Bonatz yang hadir sebagai pemateri dalam ceramah khusus di Unimed, Jumat (24/4) tadi mengatakan, teori itu hanya akal-akalan pihak Belanda untuk membengkokkan sejarah.

Turut hadir Wakil Rektor IV Unimed Prof. Dr. Berlin Sibarani, Sejarawan Dr. phil Ichwan Azhari, sejumlah peneliti, akademisi, arkeolog, jurnalis, guru sejarah, tim MGMP sejarah dan mahasiswa. Bonatz memulai materinya dengan mengulas situs-situs megalit di Pulau Sumatera, jenis batu dan macam-macam fenomena serte kronologinya. Penelitiannya difokuskan pada dataran tinggi Sumatera mulai dari Kerinci, lalu ke Sumatera Barat, terus ke pegunungan Toba, dan berakhir di wilayah Nias.

Ia memaparkan dalam slide-slidenya gambar-gambar megalit di are-area penelitiannya, dekorasi di batu, serta geometris serta temuan lainnya. Ia juga memunculkan satu peta yang sudah sangat lengkap tentang proses penelitian namun sampai saat ini, katanya, eskavasi masih minim dilakukan.

Bonatz fokus menelitian situs-situ megalitikum. Penelitian dilakukan di empat daerah yakni Kerinci, (eskavasi pada 2003) dengan menggunakan metode biokarbon. Bonatz menemukan 22 situs kuburan. Tiap kuburan terdapat banyak tengkorak serta sejumlah keramik yang dipastikan datang dari India (abad 14) dan dari dinasti Song dan Ming (Abad 11,12 M). Kuburan ini, kata dia menunjukkan populasi. Makin banyak kuburan berarti makin banyak populasi. Jumlah populasi mengacu ke maraknya peradaban Dan maraknya peradaban memengaruhi kehidupan segala sektor. Termasuk pola pemakaman yang terjadi di masa itu, cenderung mengarah prestise. "Maka situs megalit berbentuk makam ini memberi makna kuatnya prestise di zaman itu," ungkapnya memberi tafsir.

Selain di Kerinci, Ia juga memapar megalit di Pasemah dan tanah datar Sumatera Barat. Lalu megalit di Nias. Simpulannya: berbeda daerah berbeda megalitnya. Berbeda pula fungsinya serta tafsir-tafsir yang berkembang. Perbedaan itu semakin menandaskan perlu sekali dilakukan eskavasi atas situs-situs tersebut untuk memastkan pentarikhan megalit-megalit tersebut.

Di Batu Sangkar, Tanah Datar Sumatera Barat misalnya, ditemukan sejumlah megalit yang berbeda dengan di kerinci. Kalau di Kerinci umumnya berdiri tegak dan berjumlah ratusan. Megalit-megalit ini selalu menghadap ke arah gunung api Sago. Dan ukuran batu-batunya bervariasi. Sedan di Sangkar, megalit-megalit umumnya berbentuk silinder. Cirinya, satu batu di satu tempat. Dan posisinya umumnya telentang, bukan tegak. Desainnya pun geometris.

Hasil temuan itu ini menekankan berbagai fungsi megalit yang ia teliti di berbagai kawasan dataran tinggi Sumatera diantaranya, sebagai simbol kekuasaan, penanda batas wilayah kekuasaan, penanda makam, batu leluhur serta objek spiritual. “Penanggalan memang sulit disimpulkan, tapi bisa dikatakan, megalit berasal dari abad 5 sampai 20 Masehi," ungkapnya.

Ditemukannya juga, beberapa area seperti Nias dan Toba, megalit masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal, tetapi di beberapa area lain seperti Pasemah, Kerinci dan Mahat, megalit hanya menjadi bagian masa lalu yang tidak diketahui. Oleh karena itu, sarannya, penting menjaga dan melestarikan peninggalan kebudayaan megalitikum ini sebagai cagar budaya Sumatera agar tetap ada dan awet.

Selain ceramah, acara dirangkai dengan peluncuran buku: “4000 Tahun Jejak Permukiman Manusia Sumatera” yang ditulis dalam perspektif Arkeolog di dataran tinggi Pulau Sumatera. Buku tersebut karya Dominik Bonatz. Buku ini, kata Dr. phil Ichwan Azhari, Sejarawan Unimed, sebuah mahakarya arkeolog. Karya-karya semacam ini raya di luar negeri, tapi sulit diakses dan dipahami pembaca sejarah, mahasiswa dan guru sejarah Indonesia. "Karya-karya beginian terasing dari masyarakat terdidik di Indonesia yang jadi objek kajiannya,” katanya.

Padahal melalui buku begini, menurut Ichwan, sejarah yang keruh bisa dijernihkan. Penjernihan itu bisa dilakukan jika memapar hasil-hasil penelitian/riset mendalam dan serius. Keruhnya sejarah kita, terangnya, karena masyarakat Indonesia hanya mengetahui fakta yang keliru tentang masa lalu mereka, sementara Pemerintah Indonesia cenderung abai terhadap dekontruksi masa silam yang keliru. "Karena itu, saya memprovokasi Profesor Bonatz untuk menerbitkan karya-karya penelitiannya dalam bahasa Indonesia tanpa menunggu instansi pemerintah atau sponsor resmi,” ujarnya.

Relevansi

Setelah paparan di muka, lantas apa relevansi belajar megalitikum di zaman kini? Bonatz mencatat: telah muncul sejumlah kekuatiran bahwa warga yang pengetahuannya terbatas tentang megalitikum rentan memunahkan batu-batu besar (megalit). Mereka hanya memandang batu besar semata bahan-bahan bangunan. Lebih ngerinya, sambung dia, timbul pula ide untuk menghancurkan megalit karena mempercayai mitos tentang kandungan emas di dalam batu-batu tersebut. “Padahal itu tidak benar,” tegasnya.

Melalui megalit ini, seharusnya, kata Bonatz, orang Indonesia bisa belajar bagaimana nenek moyangnya, orang-orang Sumatera di zaman megalitikum, ternyata sudah menguasai sistem perekonomian, menjalankan sistem pemerintahan, menentukan batas-batas wilayah, membangun hubungan dengan wilayah luar melalui hubungan dagang dengan Dinasi Ming, dinasti Song dari China dan barter barang-barang keramik dari India. Peradaban manusia megalitikum, bahkan, katanya, menunjukkan hidup selaras dengan alam. Tak lupa, megalitikum mengajarkan peradaban manusia tentang prestise, mental masyarakat masa itu yang sudah menghormati leluhurnya.

Sempat mengikuti sesinya Bonatz, Wakil Rektor IV Unimed Prof. Dr. Berlin berkomentar halus. Buku hasil penelitian Bonatz ini, menurut Berlin, adalah sumbangsih besar terhadap sejarah dan budaya Indonesia. Ini semacam oase di tengah kemarau penelitian sejarah tanah air. Apalagi karena penelitiannya di Sumatera, maka peradaban manusia Sumatera yang diulas di buku ini dalam perspektif arkeologi. “Ini sangat membantu bagi Unimed. Apalagi Bonatz menerbitkan buku tersebut dengan dananya sendiri. Dibutuhkan banyak hasil karya penelitian sepasti dilakukan Bonatz,” pungkasnya. (*)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun