"Aduh, sorry. Saya tidak sengaja"
"Dia kan sudah minta maaf. Jangan marah lagi"
Dua kalimat di atas sudah sering kudengar. Lantas saya pun bertanya dalam diri mengapa "maaf" tercipta di dunia ini. Soalnya entah semarah apa pun kita pada seseorang, tentu karena orang tersebut telah melakukan kesalahan, tetapi kalau dia sudah minta maaf justru kita yang balik menjadi salah kalau tidak menerima permintaan maafnya.Â
Apalagi jika itu spontan terjadi, dalam artian sesaat saja setelah ia melakukan kesalahan dan ia pun segera minta maaf kepada kita, maaf dari kita pun mesti spontan. Terkadang saya berpikir, "apakah dia tidak bisa memberi kita waktu untuk marah. Lalu setelah puas kita pun bisa memberinya maaf?
Menurut saya, orang yang segera meminta maaf ketika ia sedang melakukan kesalahan adalah orang yang egois karena tidak memberi kita waktu untuk melakukan rekonsiliasi atas apa yang kita rasakan terhadap kesalahan yang ia buat. Hal ini semakin memperkuat keluh-kesahku tentang mengapa kata maaf diciptakan di dunia ini.Â
Apakah memang demikian adanya bahwa kata tersebut mutlak harus ada di dunia ini mengingat bahwa tidak seorang pun manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan? Jika demikian adanya menurut saya manusia pun haruslah pandai dalam menggunakannya. Atau justru sayalah yang salah mengartikan kata maaf tersebut karena sudah terlalu sering mendengarnya sampai jenuh mengalami permintaan maaf dari orang lain?
Maaf itu Penting
Saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya munculkan di atas dengan sebuah pertanyaan; "apa pentingnya minta maaf dan memaafkan?" Minta maaf itu penting. Seperti yang saya katakan di atas, maaf itu penting karena tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan.Â
Pada saat itu, maaf diperlukan sebagai wujud kerendahan hati bahwa diri ini belumlah sempurna. Jadi manusia itu masih gampang khilaf mesti sesungguhnya tidak ada yang mau atau sengaja untuk membuat kesalahan dalam hidupnya.
Berangkat dari dasar mengapa manusia mesti minta maaf, maka sampailah pada alasan mengapa kita juga harus memaafkan mereka yang minta maaf kepada kita. Memaafkan dalam hal ini memiliki artinya demikian yaitu menerima kelemahan orang lain. Kita tidak bisa memaksakan supaya semua orang menjadi seperti yang kita inginkan. Egois itu namanya.
Saya bersyukur bahwa masih ada orang yang hendak menyadari kesalahannya. Rasa syukur ini saya dasarkan pada kesadaran akan masih adanya orang yang sangat susah minta maaf atau susah untuk menyadari bahwa apa yang sedang dan telah ia lakukan adalah sebuah kesalahan yang merugikan orang lain. Sesungguhnya untuk orang yang berpribadi demikianlah kerja tambahan diperlukan yaitu merekonsiliasi sendiri rasa marah dalam diri kita.