Tapi kok BPOM (dan badan pengawas makanan lainnya) kasih izin edar pemanis buatan dengan klaim menyesatkan seperti itu? Apa BPOM ketinggalan info?
Katakanlah badan pengawas makananan tidak mungkin meloloskan klaim menyesatkan, dan studi-studi yang saya sebut di atas harus dipertanyakan lagi. Atau bisa saja studi-studi tersebut masih terlalu baru dan perlu dilakukan penelitian lanjutan.
Tapi harus saya ingatkan lagi kalau penelitian serupa sudah pernah dilakukan sedari delapan tahun yang lalu. Pada 2014, peneliti memaparkan tikus pada pemanis buatan. Mereka menemukan intoleransi glukosa dan obesitas pada tikus tersebut.
Penelitian lain pada tahun 2014 menemukan  bahwa pemanis buatan sering "nge-prank" otak kita. Otak kita jadinya mendambakan lebih banyak junk food. Seperti yang kita semua tahu, semakin banyak mengonsumsi junk food, berat badan jadi cepat naik dan semakin tinggi risiko diabetes.
Jadi haruskah kita berhenti mengonsumsi pemanis buatan? saran saya, tanyakan lagi ke dokter. Tapi kalau berhenti sekarang bisa mengobati kerusakan yang telah terjadi pada tubuh. Karena pada penelitian tahun 2021 kemarin mmenemukan bahwa menghentikan penggunaan pemanis buatan bisa mengembalikan kesehatan usus seperti sedia kala.
Tapi kalau mau yang tidak benar-benar bermasalah yah kurangi yang manis-manis. Bukan pemanis alami atau buatan, tapi justru kecanduan kita sama yang manis-manis yang jadi akar masalah. Saran dari WHO, konsumsi enam sendok teh saja dalam sehari biar tidak jadi masalah kesehatan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H