Kalimat dimulai seperti seorang musafir yang sendirian menuju badai salju di tengah malam, miring oleh terpaan angin, satu lengan melindungi wajahnya, ekor mantel tipisnya mengepak ke belakang.
Ada cara yang lebih mudah untuk memahaminya, keahlian bahasa tubuh misalnya. Menadah wajah seorang gadis di tanganmu seperti vas atau mengeluarkan pistol dari persembunyiaanya dan melemparkannya ke luar jendela menuju panas gurun. Semua momen ini berkobar dengan keheningan.
Bulan purnama pun menjadi masuk akal. Saat awan melintasinya ia menjadi fasih seperti sepeda yang bersandar jinak di luar Pustu atau anjing yang tidur sepanjang sore di sudut tungku.
Kaki telanjang di musim dingin merupakan salah satu bentuk tulisan. Tubuh yang tidak berpakaian adalah otobiografi. Setiap danau adalah vokal, setiap pulau adalah kata benda.
Kecuali sang musafir, masih tetap dalam kesengsaraannya, berjuang sepanjang malam melalui salju yang semakin dalam, meninggalkan alfabet yang samar lewat jejak kaki di perbukitan putih dan lantai putih lembah, sebagai pesan kepada kuskus dan burung gagak yang lewat.
Saat fajar ia akan melihat tunas asap bangkit dari celah sulaman rumbia, dan saat ia berdiri sebelum gigilan terakhir, terbungkus dalam embun beku yang berkilauan, senyuman akan muncul di jenggot es-nya, dan pria itu akan mengungkapkan pikirannya yang lengkap.
Sorong, 27 Maret 2021.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI