Mohon tunggu...
Irpanudin .
Irpanudin . Mohon Tunggu... Petani - suka menulis apa saja

Indonesianis :) private message : knight_riddler90@yahoo.com ----------------------------------------- a real writer is a samurai, his master is truth, his katana is words. -----------------------------------------

Selanjutnya

Tutup

Gadget

Solusi Pendidikan Indonesia ala Steve Jobs

19 Februari 2012   13:30 Diperbarui: 23 Januari 2019   11:03 1285
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Debat dan diskusi tentang pendidikan Indonesia tak pernah berhenti. Dari mulai falsafah, konsep dasar, tujuan, kurikulum, tata laksana, sarana, hingga pembiayaan, kajian pendidikan negeri ini selalu menghadirkan isu-isu hangat, permasalahan baru, yang terus bertumpuk dan tak pernah selesai.

Di atas tataran meja debat dan diskusi, isu pendidikan terus dibahas, formula-formula baru yang menurut sebagian ahli akan mengurai benang kusut pendidikan terus “diujicobakan”. Sementara dunia pendidikan terbaring di meja operasi, anak-anak Indonesia tak pernah berhenti bertumbuh dengan sistem pendidikan yang telah lama berurat akar. Pendidikan yang terbukti tidak membangun karakter anak negeri, melainkan menenggelamkan sebagian besar generasi penerus dalam kerusakan karakter. Sebagian kecil golongan elit pintar dan dipintarkan oleh sistem, kesempatan dan kekerabatan yang kepintarannya semakin membumbung di awan, menghasilkan ilmu yang tidak membumi; cemerlang secara teori tetapi nihil penerapan di dunia nyata. Sebagian besar lain terus dibodohkan oleh sistem dan malah menjadi beban di usia produktifnya.

Pendidikan gratis menjadi semacam puisi indah pelipur lara karena kenyataan yang sebenarnya justru pendidikan terbaik hadir sebanding dengan besarnya biaya yang dialokasikan untuk program pendidikan. 

Disadari atau tidak, petinggi negara kita telah membodohi rakyatnya sendiri dengan mempromosikan “pendidikan bersubsidi” sebagai “pendidikan gratis”. Ironisnya petinggi negara kita kemudian dibodohi oleh pelaksana pendidikan karena pendidikan berlabel gratis itu dikonversi oleh banyak petugas pelaksananya untuk mengeksploitasi hak setiap warga negara mendapat pendidikan yang layak menjadi keuntungan-keuntungan materi pribadi.

Subsidi pendidikan untuk memberikan pendidikan gratis untuk setiap anak negeri hingga level menengah tidak pernah terwujud, sekolah terus menjadi kilang uang mereka yang menjadi buruh di dunia pendidikan. SPP telah ditiadakan tapi pungutan uang sekolah dengan berbagai label terus berpacu dengan inflasi. Buku-buku yang seharusnya gratis atau memiliki harga terjangkau, sekolah atau siswa terpaksa membeli buku tertentu yang diwajibkan oleh "pemegang proyek buku" dengan harga melangit. Proyek-proyek pengadaan sarana dan prasarana sekolah dilakukan perusahaan rekanan atau orang dalam sekolah. Bahkan sudah menjadi rahasia umum di sekolah-sekolah favorit ada kelas yang dikhususkan untuk orang berada dengan membayar tarif tertentu. Ironisnya, gaji pengajar melonjak tinggi sementara di saat yang sama pengajar berstatus honorer yang telah mengabdi berthun-tahun harus hidup dengan gaji jauh di bawah UMR.

Sudah sedemikian rumitnya permasalahan dunia pendidikan Indonesia saat ini, hingga tidak jelas ujung pangkal penyelesaiannya. Pendidikan telah sedemikian terseret arus kapitalisme, kehilangan arah dan menjadi alat ekonomi.

Solusi pendidikan alternatif

Ada sebuah analogi menarik dari seorang jenius amerika, Steve Jobs, yang membandingkan pendidikan dengan pabrik mobil. Dalam sebuah wawancara Steve Jobs mengatakan; pada dasarnya biaya pendidikan lebih mahal daripada harga sebuah mobil. Kenapa dengan nilai uang tertentu kita bisa memilih mobil dari berbagai tipe, berbagai merek, berbagai fungsi, berbagai fitur serta aksesoris? Malahan semakin hari kendaraan yang dijual produsen mobil tidak hanya semakin baik dari segi fungsi dan kualitas tapi juga semakin indah.

Yang menjadi pertanyaan buat Steve Jobs adalah: Kenapa hal yang sama tidak terjadi di dunia pendidikan? Dengan nilai uang yang sama, kita tidak bisa memilih lembaga pendidikan yang paling kita butuhkan. Sekolah cenderung stagnan dari segala sisi, membosankan. Antara sekolah yang satu dengan yang lain tidak bisa dibandingkan secara obyektif, dan tidak ada jaminan seseorang yang melewati proses pendidikan di suatu lembaga mengalami peningkatan kualitas individu, sebagaimana adanya jaminan kualitas dari pabrik mobil.

Kita bisa saja mengatakan: penanganan antara benda mati dengan manusia jelas berbeda. Steve Jobs memandangnya dari sudut lain. Menurut Steve Jobs titik permasalahannya adalah “ketiadaan inovasi dalam dunia pendidikan”. Perbedaan penanganan antara benda mati dan manusia pun tidak bisa jadi alasan karena sesungguhnya industri mobil pernah mengalami stagnansi yang sama, sebagaimana juga stagnasi serupa pernah dialami industri komputer. Sebelum mobil-mobil buatan Ford memasuki pasar, jenis mobil yang diproduksi monoton dan membosankan. Hal yang sama terjadi ketika Ford model T menguasai pasar sebelum inovasi baru hadir di pasar dalam DNA mobil-mobil produksi baru, mobil volkswagen dan mobil-mobil eropa, disusul kemudian oleh inovasi mobil jepang. Seiring bertambahnya pelaku industri, inovasi industri mobil melaju cepat, kualitasnya terus meningkat, sementara harganya relatif turun.

Sebagaimana industri mobil, begitu pula yang terjadi di industri komputer, saat Apple memulai bisnisnya pasar sedang didikte oleh IBM.  Ketika pemain-pemain baru kemudian bermunculan menghadirkan inovasi-inovasi baru, industri komputer tercatat sebagai industri paling dinamis dan penuh inovasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun