Mohon tunggu...
Irpanudin .
Irpanudin . Mohon Tunggu... Petani - suka menulis apa saja

Indonesianis :) private message : knight_riddler90@yahoo.com ----------------------------------------- a real writer is a samurai, his master is truth, his katana is words. -----------------------------------------

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Puasa, Antara Menahan Diri dan Ingin Menang Sendiri

17 Mei 2019   21:47 Diperbarui: 17 Mei 2019   22:34 80
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Puasa tidak sekedar menahan diri dari rasa lapar dan haus, yang lebih utama adalah menjaga diri, menahan diri dari berbagai hawa nafsu', demikian kata ustad.

Meskipun kalimat itu sudah sangat terkenal dan muncul dalam berragam versi lain, tetapi tetap relevan untuk disampaikan. Pun, lebih sulit dilakukan daripada dikatakan.

Kenyataannya, menahan lapar dan haus itu mudah. Lalu kalau mudah kenapa Tuhan masih memerintahkan manusia untuk berpuasa? Biar langsing? Atau supaya sehat, seperti yang dipopulerkan oleh sebagian kalangan untuk memberi semangat agar orang mau berpuasa.

Soal sehat, berat badan turun, atau mungkin menghemat pengeluaran, itu cuma efek samping. Tuhan menegaskan bahwa tujuan utama puasa tetaplah untuk melatih manusia bersabar, mendekatkan diri kepada-Nya dan menjadi orang yang bertakwa.

Atas dasar pemahaman itu saya tidak marah meskipun di Bulan Ramadhan ini saya menyaksikan banyak orang ngopi dan merokok di pinggir jalan. Tidak menyalahkan stasiun TV meskipun acaranya mengeksploitasi kaum muslim dengan hiburan dan budaya konsumtif.

Tidak juga kecewa meskipun saya menyaksikan bagaimana nafsu berkuasa telah meracuni sebagian masyarakat kita. Bukannya menahan diri, setidaknya menahan ujung jari untuk tidak membagikan berita provokatif, bias, dipelintir atau belum terbukti kebenarannya, peredaran hoax di tengah masyarakat makin menjadi.

Malahan beredar ajakan untuk menggalang massa di tengah ramadhan ini. Tujuannya hanya untuk menahan penyelenggara resmi mengumumkan hasil pemilu. Suatu ajakan yang sangat berresiko. Itu pun mendapat pembenaran ayat suci. Kalau sudah begitu, di mana upaya menahan diri-nya orang berpuasa, jika rasa ingin menang sendiri, merasa benar sendiri, merasa paling unggul dan paling baik tetap dipelihara?

Barangkali berpuasa bagi sebagian orang memang masih terbatas menahan diri dari rasa lapar dan haus, bukan hawa nafsu dalam berbagai bentuknya. Tapi saya tetap meyakini, menahan diri dari lapar dan haus tetap mengurangi pengaruh hawa nafsu orang-orang yang menjalankan puasa.

Seandainya pengumuman pemilu 22 Mei nanti tidak jatuh bersamaan dengan bulan Ramadhan dan menjelang libur idul fitri, kondisinya mungkin akan lebih buruk dari yang terjadi sekarang. Bahkan mungkin lebih menakutkan dari yang bisa kita bayangkan sebagai bangsa.

Maka, bersyukurlah bagi mereka yang bisa menahan diri tidak hanya dari lapar dan haus. Juga bersyukur, bahwa akhir pemilu tahun ini bersamaan Bulan Ramadhan dan jatuh menjelang Idul Fitri. Soal diterima atau tidaknya puasa orang yang tidak mampu menahan nafsu di ujung jarinya, itu urusan yang bersangkutan dengan Tuhannya. Tidak perlu dirisaukan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun