Si pemuda baru bangun tidur. Ia baru sadar kalau hari itu sudah senja. Matahari terbenam di barat, menyisakan remah -- remah cahaya kekuningan.
Tak jauh dari tempatnya beristirahat, tampak beberapa orang gunung yang menyalakan api unggun. Mereka berkumpul sambil menyantap sesuatu. Entah dari mana mereka dapat makanan itu, tapi tampaknya ketela itu membuat dirinya lapar juga.
Ia bergabung dengan mereka. Menyantap seonggok ketela empuk yang agak gosong tapi rasanya sungguh nikmat. Lalu ia melihat seseorang yang duduk di pinggir sebuah batu nisan.
Si pemuda mendekati orang gunung itu.
"Sudah berapa banyak orang gunung yang gugur?"
"Gugur karena apa?"
"Karena mencari air terjun itu."
"Entahlah. Kami mencari air suci itu waktu aku masih kecil. Kakekku juga ikut gugur saat mencarinya. Dan yang baru kita kubur ini, adalah teman ayahku waktu kecil. Ia membuntuti dua orang asing yang tahu tempat air itu berada."
"Dua orang asing?"
"Ya. Seperti yang kami bilang, banyak orang yang mencari air bertuah itu. Dan dua orang itu juga mencarinya. Namun karena mereka mampu menjelajah gunung ini dengan mudah, kami memutuskan untuk membuntutinya. Kami pikir dengan begitu, kami bisa ikut menemukan air terjun itu."