Saya tak hendak bercerita tentang sejarah kopi. Meski riwayat tentang spesies Coffea arabica L ini sungguh luar biasa. Dibudidaya sejak 1500 tahun yang lalu di barat daya Ethiopia, Afrika sana (Lejeune, 1958). Mulai tersebar ke Yaman, ke jazirah Arab, kemudian ke Kota Konstantinopel oleh bangsa Turki (kesultanan Utsmaniyah). Terus merembet tak terbendung ke benua biru; Eropa (Belanda, Itali, Inggris) sampai benua merah, Amerika. Tidak.
Saya tidak mau bercerita melebar ke mana-mana. Bahwa menurut Abu Thayib al-Ghazali dalam Syudzur Dzahab, orang yang pertama kali menyeduh kopi ialah Nabi Sulaiman yang mendapatkan petunjuk dari Allah melalui Jibril agar menyeduh biji kopi sebagai ramuan atas penyakit yang menimpa penduduk di sebuah kota. Sehingga tidak heran kopi dinikmati para kaum Sufi di Yaman. Bukan.
Saya bukan mau bercerita bahwa secara global komoditas kopi telah menjadi industri seharga Rp 1.245 triliun atau setara hampir separuh dari GDP Indonesia sendiri dan menyediakan lapangan kerja sebanyak 125 juta (Global Market Report: Coffee, 2019). Meski sedihnya, di tengah manisnya hasil penjualan kopi di dunia, Indonesia masih banyak kebagian pahitnya saja. Bayangkan, Indonesia dengan jumlah petani kopi sebanyak 3x lebih banyak dibanding petani kopi Vietnam, tetapi produktifitasnya hanya 1/3-nya saja.
Saya hanya mau bercerita tentang penemuan kopi yang sederhana. Setelah sekian lama merindukan kopi Indonesia, sore kemarin saya menemukan kopi Jawa. Bermerk Single Origin Javan Coffee dari Toko Aldi, Nottingham. Kembali merasai rasa kopi yang cocok pada saat berbuka puasa, yang bahkan sampai siang ini pun aromanya tetap ada di kepala. Sah!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H