Inilah foto yang diambil dari twitter Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto ini sudah tentu disukai pemimpin Rusia tersebut, karena menggambarkan keakraban ketiga pemimpin itu (Rusia, Turki, Iran) ketika berada di Turki. Bahkan Presiden Rusia Vladimir Putin sering ke Turki untuk menawarkan berbagai senjata mutakhirnya kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Namun demikian, permasalahan jual beli senjata tidak ada kaitan dengan keberpihakan Erdogan ke Muslim Sunni karena memang lahir sebagai Muslim Sunni. Itulah sebabnya Erdogan mendukung serangan pesawat tempur Amerika Serikat (AS), Prancis dan Inggris ke Suriah pada hari Sabtu, 14 April 2018 lalu.
Tentang Muslim Sunni dan Syiah sebetulnya tidak terlalu dipermasalahkan di dalam agama Islam, karena hanya bertitik tolak kepada siapa yang tepat melanjutkan penyebaran agama Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Bukan sebagai nabi, karena Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir. Jadi siapa yang tepat dipilih setelah Nabi Muhammad SAW wafat, maka di sinilah muncul kelompok yang kemudian disebut Syiah dan Sunni. Syiah menganggap Ali r.a yang patut menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai pelanjut ajaran Islam, karena selain sahabat nabi, juga menantu beliau.
Sedangkan Sunni sebagaiman di Turki dan Arab Saudi, Abu Bakar r.a yang patut menggantikan posisi nabi sebagai penyebar agama Islam. Berlanjut kepada Umat r.a, Ustman r.a dan kepada Ali r.a. Tetapi di di dalam politik dunia sekarang ini, Rusia mengimbangi kekuatan dan pengaruh AS. Ketika AS mendukung Arab Saudi (Sunni), Rusia mendukung Iran, Suriah (Bashar al-Assad seorang Syiah sementara penduduknya mayoritas Sunni) dan Irak (sekarang pemimpin Irak dari Syiah), itu sebabnya, Irak menentang agresi AS, Inggris dan Prancis ke Suriah baru-baru ini.
Di dalam hal memprotes serangan AS dan sekutunya ke Suriah, Presiden Rusia Vladimir Putin benar-benar marah, karena hampir di setiap sudut kota di Suriah terdapat warga Rusia yang siap membantu Presiden Suriah Bashar al-Assad. Ini sudah tentu ada kaitannya dengan penjualan senjata Rusia paling mutakhir ke Suriah. Sebaliknya Arab Saudi membeli senjata Amerika Serikat.
Oleh karena itu, hubungan AS dan Rusia di Timur Tengah lebih dikarenakan masalah minyak dan penjualan senjata mutakhir ke negara Arab. Masalah Yaman, Arab-Israel, maupun gejolak di Afghanistan bukanlah berdiri sendiri. Ada kekuatan besar di belakang negara Arab dan Yahudi itu, kalau tidak AS, ya Rusia.
Tentang pernyataan Putin yang mencontohkan Irak, Yugoslavia dan Libya dalam pidatonya setelah serangan AS, Prancis dan Inggris ke Suriah, hanya sekedar menggarisbawahi, bahwa ketiga negara itu pernah hancur akibat serangan AS ke ketiga negara tersebut. Hal itu jangan sampai terjadi di Suriah.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI