Yadi vacam pradasyami dvijatiriva samsktam
Ravana manyamana mam sita bhita bhavisyati
(Ramayana Valmiki 5.28.18)
"Jikalau aku berkata-kata seperti para brahmana Dvijati mempergunakan Bahasa Sanskerta, maka Dewi Sita akan menjadi ketakutan karena menganggap aku ini adalah Ravana (yang menyamar menjadi kera)."
Ketika mengadakan pencarian, orang tidak selalu mendapatkan apa yang dicari. Suatu pencarian memerlukan pemahaman tentang "siapa yang mencari" dan "apa yang dicari", lalu "bagaimana mencari". Hal-hal semacam itu selalu menjadi pertimbangan dalam pencarian.
Tidak seperti pencarian dalam google, siapa saja bisa meng-klik apa saja. Dalam pencarian di jalan dharma, sebelum mengadakan pencarian, sebelum meng-klik "search", orang harus mempertimbangkan terlebih dahulu siapakah diri sejatinya, apa yang ingin di-"search", lalu bagaimana cara men-"search"-nya.
Hal tersebut bersifat principal mengingat apa yang diketikkan di sana, itulah yang akan keluar. Apa yang dipikirkan, itu yang di-"search", dan itulah yang akan "muncul" di dalam "layar sang diri".
Mengabaikan prinsip pencarian dapat menyesatkan dan memaksa orang untuk terus mencari dan mencari. Mereka tidak akan pernah menemukan apa yang dicari, bahkan justru akan menjauhkan dirinya dari apa yang sedang dicarinya.
Sri Rama mengutus Hanuman mencari Dewi Sita ke Lakapura. Begitu menemukan tempat Dewi Sita disembunyikan oleh Ravana, yaitu di Taman Aoka, Hanuman berpikir keras perihal cara memperkenalkan diri ke hadapan Dewi Sita sebagai utusan Sri Rama.
Hanuman tidak sembarangan begitu saja langsung bertemu dan bertutur kata dengan Dewi Sita. Hanuman memikirkan secara mendalam apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengucapkannya. Akhirnya Hanuman memilih untuk mempergunakan bahasa yang dipergunakan oleh manusia biasa (manusam vakyam).
Ia tidak mempergunakan Bahasa Sanskerta karena takut Dewi Sita menjadi curiga dan ketakutan (sita bhita bhavisyati) dengan menganggap Hanuman sebagai Ravana yang menyamar dan mengubah wujud bentuk sebagai monyet (Ravana manyamana mam).
Akhirnya Hanuman memutuskan cara untuk menyapa Dewi Sita dan memperkenalkan diri sebagai utusan Sri Rma. Hanuman mengagung-agungkan Sri Rama sebagai putra mahkota keturunan wangsa Ikavaku dengan pemilihan kata-kata yang tepat, manis, dan sepenuhnya dalam kemuliaan dharma (subhani dharma-yuktani vacanani) sehingga Dewi Sita mempercayai Hanuman sepenuhnya sebagai utusan dari Rama (radhsyati sarvam).
Selain menyampaikan kebenaran melalui cara yang manis menarik, pemilihan bahasa, kalimat serta tutur kata menjadi kunci keberhasilan komunikasi dua belah pihak.