Hal tersebut membuat Ip Man termenung karena dia telah melakukan hal yang sama pada anaknya. Dari sinilah Ip Man menyadari bahwa apa yang dia lakukan dalam mendidik anak adalah salah.
Ketika mengobrol dengan Ip Man, Yonah mengatakan bahwa dia lebih menyenangi sekolah dan cheerleaders daripada menekuni wingchun. Tentu saja ini berbeda dengan anaknya yang ingin fokus pada wingchun.
Nah, dari cerita tersebut dapat kita simpulkan apa yang orang tua tuntut pada anaknya belum tentu disukai. Toh jika dipaksakan akhirnya tidak berprestasi juga. Anak Ip Man gagal dalam akademik dan Yonah sebaliknya.
Untuk menggambarkan di dunia nyata, ambilah contoh para atlet kita. Dalam beberapa kesempatan Kevin Sanjaya dan Marcus sering ditanya tentang pilihannya terjun ke bulutangkis daripada akademik.
Keduanya mengatakan bahwa sejak dari kecil memang menyukai olahraga raket tersebut. Di sisi lain, orang tua mereka selalu mensuport apa yang anaknya pilih. Inilah kunci keberhasilannya.
Orang tua tidak memaksakan kehendak, tetapi memberi dukungan pada anaknya untuk berkembang dengan bidang yang dia gemari. Jadi bagi saya pola asuh itulah yang baik, yaitu pola asuh supotrif.
Sebagai orang tua hendaknya mendukung bidang yang disenangi sang anak, asalkan bidang tersebut memberikan dampak positif bagi perkembangan anak.Â
Jika nilai matematika anak anda jelek, tetapi menonjol di bidang olahraga, bagi saya jangan memberikan les privat matemitka padanya. Lebih baik kembangkan potensi yang dia miliki, yaitu mengasah kemampuan olahraganya.
Bisa jadi sang anak akan menjadi seorang atlet erkenal dunia. Begitu juga jika sang anak hobi buat puisi, bisa jadi si anak di masa depan akan menjadi The Next Chairil Anwar.
Keberhasilan tidak hanya diukur oleh satu mata pelajaran atau bidang akademik saja. Biarkan anak berkembang dengan potensi yang dia senangi baik itu di lingkungan akademik maupun nonakademik.Â
Siapa tahu anak-anak yang gagal dalam akademik dan mata pelajaran tertentu di masa depan menjadi sastrawan, musisi, seniman, bahkan politikus ulung. Jangan sampai potensi anak terkubur hanya karena ingin memperbaiki bidanh yabg tidak disukainya.Â