Mohon tunggu...
Daniel Linwood
Daniel Linwood Mohon Tunggu... wiraswasta -

Wiraswasta

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Management Operasional Citylink di Pekanbaru

21 Maret 2015   11:17 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:20 31
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beberapa waktu lalu saya naik Citylink dari Pekanbaru ke Jakarta, beli tiket online, sebelum hari keberangkatan diberitahu waktu take off dimundurkan satu jam via sms, ini servis yang biasa diberikan oleh airline lain untuk zaman handphone ini.

Setelah menunggu beberapa lama di bandara Pekanbaru, tiba saat untuk boarding, disini nampak kurang profesionalnya management lapangan dari Citylink.

Para penumpang telah dipanggil untuk boarding, tapi  petugasnya belum siap sama sekali, penumpang yang hampir 200 orang sudah berdiri, antre berdesak desakan karena ruang tunggu bandara Pekanbaru yang kecil dan setelah menunggu sambil berdiri berdesak-desakan beberapa menit, baru kemudian petugas siap melayani penumpang naik ke pesawat.

Sewaktu penumpang dipanggil untuk boarding tidak ada penjelasan kelompok mana yang didulukan, baru setelah penumpang berdiri berdesak-desakan, diumumkan bahwa  penumpang yang membawa anak kecil didulukan, akibatnya penumpang dengan anak kecil harus menerobos kerumnan penumpang yang sedang berdesak-desakan untuk maju kedepan.

Setelah itu baru penumpang dengan  nomor seat belakang, saya sudah merasa senang, saya merasa management Citylink sudah seperti pesawat besar yang penumpang dipanggil perkelompok nomor seat, dimulai dengan Business Class, lalu  seat bagian belakang, baru di tengah, dan terakhir bagian depan.

Ternyata yang saya temui lain, setelah berjalan melalau garbarata yang baru dioperasikan di Pekanbaru, saya dihadang oleh petugas Citylink dan disuruh turun melalui tangga untuk naik melalui pintu belakang pesawat, jadi saya harus turun dan naik tangga sambil berpanas-panas.

Padahal garbarata tersambung langsung ke pintu pesawat dengan posisi kosong, dan penumpang dengan nomor seat bagian depan telah ditahan supaya naik pesawat belakangan.

Pasti tujuan perintah management membagi kelompok ini untuk meningkatkan service kepada penumpang dan kecepatan boarding jadi naik dengan mengatur penupang bagian belakang naik duluan, baru penumpang bagian depan naik belakangan supaya tidak berdesak-desakan di gang pesawat yang sempit dan memperlama waktu boarding.

Tapi mungkin karena SOP(Standard Operating Prosedure) yang kurang jelas dan tidak dilengkapi dengan petunjuk detil pelaksanaan SOP ini, maka terjadilah blunder yang bukan meningkatkan pelayanan kepada penumpang, yang terjadi adalah sebaliknya, waktu boarding tetap lambat, penumpang bagian belakang merasa dianak tirikan.

Saya termasuk kelompok penumpang yang sial ini, disuruh turun naik tangga sambil berpanas-panas dengan melihat garbarata yang tersambung ke pesawat dalam keadaan kosong, tapi saya tidak diizinkan memakainya.

Alangkah tidak profesionalnya, perintah management yang dilaksanakan setengah setengah. Ini mengakibatkan penumpang dengan nomor seat bagian belakang dan saya kecewa berat, beberapa penumpang mengumpat mengatakan petugasnya bodoh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun