Mohon tunggu...
Dandan Hamdani
Dandan Hamdani Mohon Tunggu... profesional -

my name is Dandan Hamdani, visit my blog : http://dandanhamdani.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Gak Mau Hidup Kayak Ericka Kan? Stop Berhutang, Hiduplah Apa Adanya...

20 November 2012   00:43 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:02 1390
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Saya tiba-tiba ingat film “20 Pesona Wajah Indonesia SCTV” produksi Rumah Produksi Citra Sinemanya Dedy Mizwar. Film berdurasi 1.5 jam yang sinopsisnya dibuat oleh Jujur Prananto ini   berjudul Ericka yang diperankan dengan baik oleh Andinia Wirasti. Film ini sangat realistis banget menceritakan dengan perempuan metropolitan yang tersandung masalah utang dengan berbagai tagihan. Film Ericka garapan sutradara Upi Avianto ini bercerita tentang gadis pekerja bernama Ericka yang bergaji Rp.9 juta. Dia harus membayari berbagai tagihan dari mulai sewa apartemen, cicilan mobil, tagihan blackberry dan tagihan Credit Card Goldnya sehingga setiap bulannya hanya menyisakan Rp.1 juta untuk biaya hidup sebulan. Bagi Ericka gadis dari Lampung yang hidup melajang di Jakarta dengan gaya hidup seperti itu tentu saja kewalahan tapi untuk kembali ke kehidupan lama dengan ngekost di tempat yang murah dan turun naik bis dan mikrolet Ericka tidak sanggup. Meskipun berat kehidupan seperti itu tetap dijalani meski harus mengorbankan makan siang dan terpaksa puasa hura-hura. Ericka tidak sendirian, ada jutaan manusia di kota-kota besar terjebak dengan gaya hidup hedon yang bisa dicap ‘gaul’ jika bisa makan-minum di coffee-coffee shop, belanja di toko-toko branded, menggunakan smartphone seperti blackberry dan I Phone sehingga terjebak dalam utang kartu kredit dan KTA. Orang sering tak berfikir panjang dan mengunakan akal sehat bagaimana menyelesaikan pembayarannya dikemudian hari. Jika gajinya Rp.9 juta mustinya segala pinjaman itu harusnya maksimal 30%, jika anda seperti Ericka yang terjadi adalah debt collector yang menagih dengan cara yang sadis. Mau nasibnya seperti Ericka ?

Menurut data dari Koran Kontan yang dilansir tahun 2010, kredit macet di The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) Indonesia mencapai Rp2,93 triliun atau naik tiga kali lipat dibanding kuartal I 2009 sebesar Rp 682,77 miliar. Kredit macet ini berasal dari debitur non usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Porsinya: sebesar 90% adalah kredit macet dari kartu kredit dan sisanya kredit tanpa agunan (KTA). Kredit macet ini mengakibatkan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) HSBC menanjak dari Rp 1,68 triliun menjadi Rp 3,58 triliun. Jangan pernah terayu oleh bujukan salesman kartu kredit untuk apply, hampir semua kartu kredit menawarkan kemudahan dari mulai free membership di tahun pertama, interest setiap bulan yang lebih rendah dibanding Bank lain, berbagai fasilitas seperti Lounge di Bandara hingga ragam diskon makan di resto-resto terbaik. Ingat salesman kartu kredit berhak mendapat Rp.25.000 dari setiap aplikasi yang masuk dan tambahan Rp.100.000 jika aplikasi tersebut disetujui. Itu sebabnya mereka mengejar calonnya seperti kesetanan.
Jika dibanding KTA (kredit Tanpa Agunan), kartu kredit masih lebih baik, kita dengan mudah mendapat informasi jumlah tagihan, tanggal tengat waktu, jumlah minimum pembayaran bahkan kita bisa mengklaim balik jika ada transaksi yang tidak pernah kita lakukan bahkan dengan biaya Rp.50.000 Bank penerbit kartu kredit bisa membuka transaksi dengan detail. KTA lebih kejam, bukan saja Bank  tidak akan pernah menerbitkan laporan pembayaran, jumlah tunggakan hingga kita tidak pernah tahu berapa lama lagi waktu kita bayar. Jika lebih dari 2 kali kita menunggak pembayaran, sang debt-collector dengan sangat tidak ramah menyantroni kantor atau rumah nasabah. Memang sangat mudah mendapat kredit tanpa agunan, cukup buat aplikasi diisi data lengkap dengan tanda tangan, foto copy KTP/SIM dan tanpa proses serumit aplikasi kartu kredit, uang cair dan masuk rekening kita tanpa banyak cing-cong. Bunganya flat tidak mengikuti suku bunga flukuatif, jika bunga saat akad kredit 1.8% per bulan sampai akhir periode tetap segitu tidak peduli bunga bank sedang turun. Jika kredit sudah masuk tahun ke-3 apalagi jika pembayaran sering nunggak mereka menawari pelunasan dengan diskon 20% dari sisa tagihan. Ingat, perjanjian kartu kredit maupun KTA adalah perjanjian 1 pihak itu sebabnya Bank sangat mencegah muncul perselisihan lewat pengadilan karena mereka akan kalah. Apa yang dilakukan Bank untuk melindungi uangnya? Pertama, semua kredit baik KTA maupun kartu kredit diasuransikan, jadi jika kita ‘kabur’ dari kewajiban dan tidak bayar-bayar Bank akan mengklaimnya ke asuransi dan tidak lupa mendaftarkan nama nasabah ke Daftar Hitam Bank Indonesia sehingga bank manapun tidak akan menyetujui kredit apapun. Biasanya daftar hitam di BI berlaku hingga 5 tahun, setelah itu akan terjadi pemutihan. Pihak Bank tidak mau ambil pusing dalam hal collection, mereka akan menyerahkan data nasabah bandelnya ke perusahaan collection. Cara kerja perusahan collection adalah berusaha menakut-nakuti nasabah agar membayar tunggakannya dari mulai telepon yang terus menerus sampai kita pusing dan stres hingga menyantroni nasabah ke kantor atau ke rumah. Tugas mereka memaksa nasabah membayar, itu sebabnya para debt-collector tampangnya tidak ada yang ramah, suaranya keras dan tidak memiliki manner yang baik. Seringkali mereka memilih kata yang paling tidak sopan bahkan cenderung menyakitkan dan bernada mengancam. Semua itu dilakukan karena Bank tidak bisa menyeret nasabah ke Pengadilan dan dengan cara seperti itu nasabah akan terganggu secara psikologis dan akhirnya membayar. Karena Bank tidak bisa menyeret ke pengadilan dan malas berurusan dengan pengacara, akhir-akhir ini bermunculan pengacara yang menawarkan jasanya untuk membebaskan diri dari jeratan utang kartu kredit dan KTA dengan mengutip sejumlah uang. Apa yang mereka lakukan ? Mereka hanya bilang jika ada orang datang menagih atau telepon, suruh mereka menghubungi pengacara tersebut. Pengacara tersebut tidak melakukan apa-apa dan umumnya baik Bank maupun debt-collector tidak mau menghubungi atau berurusan dengan  pengacara, tagihan tetap dilakukan ke nasabah bandel tersebut. Enak dong kerja pengacara tersebut, ya begitulah Jakarta apa aja bisa jadi duit. Coba deh anda iseng-iseng jika ditawari kartu kredit lagi bilang ke salesmannya bahwa profesi anda adalah pengacara pasti mereka tidak akan mengganggu anda lagi. Jangan pernah membayar tagihan anda dengan hanya membayar minimum yang hanya 10% dari total tagihan karena itu berarti anda hanya membayar bunganya saja. Jika anda pandai mengatur, usahakan anda membayar sebelum tagihan berikutnya datang dijamin tidak kena bunga dan nasabah ini yang Bank tidak sukai atau bayarlah paling tidak 1/2 dari tagihan atau jika perlu anda bayar full karena selain Bank mengenakan biaya keterlambatan sebesar Rp.25.000-Rp.50.000 juga bunga berbunga sehingga anda merasa tagihan anda nggak pernah selesai. Selain itu jangan sesekali anda mengambil uang tunai dari kartu kredit karena bunganya lebih gila, pada saat anda mengambil saja Bank sudah mengenakan 3% dari jumlah yang anda ambil belum lagi bunga berbunga serta biaya keterlambatan tadi. Kembali ke cerita Ericka tadi, untuk menutupi utang yang membelitnya sehingga menganggu kinerjanya di kantor, atas saran teman-temannya Ericka mencari pacar atau calon suami kaya yang bisa membantu menutupi utang-utangnya. Setelah pencarian yang melelahkan dan berita kondisi utangnya Ericka sudah santer di kantor, akhirnya bosnya menawarkan membayarkan utang-utangnya dengan syarat Ericka harus pindah ke bagian HRD dimana bos tersebut bekerja. Rupanya Bos HRD itu sudah lama naksir Ericka dan dia mengajak Ericka pacaran hingga memberanikan diri melamarnya. Sebelum menikah Ericka dihadapkan pada kenyataan bahwa sang Bos sudah menikah dan punya anak, dia akan menjadikan Ericka istri keduanya. Namun Ericka sadar dan meninggalkan sang Bos di mobil yang artinya menolak ajakan menikah dan kembali menikmati hidup melajang yang dikejar-kejar deb-collector. Sekali lagi Ericka tidak sendirian, banyak perempuan Jakarta yang akhirnya menggadaikan harga dirinya hanya demi memenuhi keinginan dalam gaya hidup hedonis. Kemudian memaksanya mencari pasangan yang bisa membiayai gaya hidup mewah di apartemen, jalan kemana-mana pake mobil dan berbelanja dengan kartu kredit unlimited tanpa peduli pasangannya sudah punya anak istri yang dengan setia menunggunya di rumah. Percayalah betapa nikmatnya hidup tanpa hutang, biasakan anda pergi kemana-mana dengan membawa uang cash atau kartu debit, gunakan dengan bijak kartu kredit anda untuk hal-hal yang mendesak. Anda tidak ingin kan seperti Ericka ?

Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun