Mohon tunggu...
Damanhuri Ahmad
Damanhuri Ahmad Mohon Tunggu... Penulis - Bekerja dan beramal
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Ada sebuah kutipan yang terkenal dari Yus Arianto dalam bukunya yang berjudul Jurnalis Berkisah. “Jurnalis, bila melakukan pekerjaan dengan semestinya, memanglah penjaga gerbang kebenaran, moralitas, dan suara hati dunia,”. Kutipan tersebut benar-benar menggambarkan bagaimana seharusnya idealisme seorang jurnalis dalam mengamati dan mencatat. Lantas masih adakah seorang jurnalis dengan idealisme demikian?

Selanjutnya

Tutup

Halo Lokal

Ketika Buku Pengabdian Seorang Anak Kampung Berkisah tentang Mukhlis Rahman

8 Desember 2023   08:45 Diperbarui: 8 Desember 2023   10:30 183
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Eh, lai wartawan juo lai," sapa Mukhlis Rahman, ketika saya menyodorkan tangan untuk salaman dengan mantan Walikota Pariaman dua periode itu, Rabu 6 Desember 2023 di Aula IAI Sumbar, Pariaman.

Sambil menjabat tangan saya, Mukhlis Rahman yang bergelar Datuak Rajo Basa ini menyuruh saya duduk di sampingnya.

Hari itu kami diminta oleh Armaidi Tanjung jadi pembicara dalam bedah bukunya di kampus itu. Spontan, Mukhlis Rahman teringat dan menceritakan kehidupan dia sebagai orang kampung.

Ya, setelah saya pancing dengan cerita sebuah buku yang ditulis Armaidi, "Ketegasan dalam Kesederhanaan, Pengabdian Seorang Anak Kampung".

Tentu kisah sedih, tapi diceritakan dengan terharu dan gembira. "Itu saya rasakan, ketika sekolah dari kampung ke Pariaman ini, zaman SMA. Terasa olokan yang diterima dari orang-orang kota," sebutnya, sambil tersenyum mengenang masa lalunya.

Sikapak, kampung kelahiran Mukhlis Rahman, zaman dia bersekolah ke Pariaman mungkin masih terasa kampung, dan oleh orang yang tinggal di Pariaman, mungkin Sikapak itu dianggap kampungan.

Buku Mukhlis Rahman itu jadi menarik, dan sepertinya laris. Buku itu terbit saat Mukhlis Rahman masih menjabat Sekdako Pariaman.

Betapa tak laris. Buku itu diberikan gratis alias tak dibeli, pun kisah Mukhlis Rahman di dalamnya dinilai menarik.

Menarik, seorang anak kampung, sempat bersekolah di kota, mampu berkarir di PNS sampai puncaknya.

Malah, Mukhlis Rahman, anak kampung yang lahir 6 Juni 1958 ini berturut-turut dua kali jadi walikota (2008-2013, 2013-2018). Tentu kisahnya ini menarik, dan jadi pemantik bagi banyak orang untuk mengetahui lebih dekat dengan Mukhlis Rahman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Halo Lokal Selengkapnya
Lihat Halo Lokal Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun