Mohon tunggu...
Daffa Fadiil Shafwan Ramadhan
Daffa Fadiil Shafwan Ramadhan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Fresh Graduate Sarjana Hukum di UPN Veteran Jakarta

"Kepriyayian bukan duniaku. Peduli apa iblis diangkat jadi mantri cacar atau diberhentikan tanpa hormat karena kecurangan? Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya," ungkap Pramoedya A. Toer dalam Tetralogi Buru.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Masa Depan Identitas Islam: Ancaman Sekularisme dalam Pendidikan Modern di Negara Mayoritas Muslim

29 Desember 2024   10:00 Diperbarui: 23 November 2024   07:50 19
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Masjid Umar bin Khattab di Yerusalem. (Sumber: Jernih.co)

A. Dampak Sistem Pendidikan Sekuler pada Identitas Islam

Warisan kolonialisme Eropa telah meninggalkan jejak mendalam pada sistem pendidikan di negara-negara mayoritas Muslim, seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sebagian besar sistem pendidikan yang diadopsi di negara ini mengutamakan nilai-nilai Barat, sering kali mengesampingkan atau bahkan mengikis nilai-nilai Islam. Kurikulum modern di banyak negara Muslim sering kali didominasi oleh pandangan sekuler, yang mengakibatkan peminggiran ajaran agama sebagai aspek marginal dalam pendidikan formal.

B. Strategi Sekularisasi dan Tantangan Nilai Islam

Laporan seperti yang diterbitkan oleh RAND Corporation mendorong sekularisasi dunia Islam dengan alasan bahwa nilai-nilai Islam dianggap oleh Barat telah menghambat modernisasi. Isu-isu seperti peran gender, struktur keluarga, dan identitas keagamaan menjadi fokus tekanan untuk diubah agar sesuai dengan norma-norma ala Barat. Pendekatan ini tidak hanya mengikis kesadaran Islam di kalangan generasi muda tetapi juga menciptakan jurang yang semakin lebar antara umat Islam dan nilai-nilai tradisionalitas mereka.

C. Peran Gerakan Dakwah dan Ulama Modern dalam Melawan Fragmentasi Ideologis

1. Figur Intelektual Kontemporer

Seperti halnya Nizham Al-Mulk dan Imam Al-Ghazali yang melawan ancaman ideologi heretik pada masa lalu, sejumlah tokoh modern juga muncul untuk menghadapi tantangan ideologis kontemporer. Tokoh-tokoh apolegetika Islam, seperti Ahmed Deedat, Zakir Naik, ataupun Dondy Tan di Indonesia, telah memainkan peran penting dalam mempertahankan keutuhan ajaran Islam dengan memberikan argumen yang rasional dan berbasis Al-Qur’an dan As-Sunnah terhadap kritik dari ideologi sekuler, ateisme, ataupun doktrin agama lain.

2. Melawan Narasi Anti-Islam di Media dan Wacana Global

Dalam era informasi modern, tantangan ideologis tidak hanya datang dari pendidikan sekuler tetapi juga dari propaganda media global yang sering mempromosikan narasi anti-Islam. Lembaga dan platform seperti NU Online, Republika Online, ataupun Suara Muhammadiyah dapat berupaya untuk melawan narasi ini dengan menciptakan konten-konten yang membela nilai-nilai Islam, baik melalui debat intelektual maupun penyampaian dakwah yang strategis di media sosial dan platform daring.

3. Pendekatan Rasional dan Filosofis

Sebagaimana Imam Al-Ghazali menggunakan pendekatan intelektual untuk melawan filsafat Yunani dan ajaran Batiniyah, ulama dan intelektual modern juga menggunakan pendekatan yang logis dan filosofis untuk membantah ideologi ateisme, liberalisme, dan sekulerisme. Dengan memberikan argumen yang kuat, mereka membantu umat Islam memahami ancaman ideologi ini dan memberikan solusi berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

D. Melanjutkan Tradisi Intelektual untuk Mempertahankan Identitas Islam

Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan umat Islam tidak dapat dipisahkan dari tradisi intelektual yang kuat. Sebagaimana pada masa Nizham Al-Mulk dan Imam Al-Ghazali, umat Islam modern memerlukan pemimpin intelektual dan spiritual yang mampu memberikan panduan di tengah kompleksitas dunia kontemporer.

1. Melestarikan Nilai-Nilai Islam melalui Pendidikan Modern

Sistem pendidikan modern harus menanamkan nilai-nilai Islam yang kokoh sekaligus memberikan keterampilan duniawi yang relevan. Kurikulum yang seimbang antara ilmu agama dan ilmu duniawi dapat menciptakan generasi Muslim yang tidak hanya kompeten secara intelektual tetapi juga memiliki komitmen terhadap syariat Islam. Upaya ini telah dilaksanakan dengan baik oleh PP Muhammadiyah di Indonesia. Besar harapannya agar kegiatan dakwah melalui pendidikan modern seperti Muhammadiyah ini dapat terus berkembang.

2. Mengintegrasikan Dakwah dengan Teknologi

Seperti halnya media menjadi alat untuk menyebarkan narasi anti-Islam, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan dakwah secara efektif. Platform digital dapat menjadi alat untuk menyampaikan pesan Islam kepada khalayak yang lebih luas, baik untuk memperkuat keimanan umat Islam maupun menjelaskan nilai-nilai Islam kepada dunia. Upaya seperti ini telah dilakukan oleh ulama-ulama kondang di Indonesia, seperti Ustadz Abdul Somad, Buya Yahya, Habib Quraish Shihab, dan K. H. Ahmad Bahauddin Nursalim.

E. Kesimpulan: Pendidikan dan Dakwah sebagai Kunci untuk Menghadapi Tantangan Modern

Tantangan intelektual dan ideologis yang dihadapi dunia Islam saat ini mengingatkan kita pada perjuangan masa lalu yang dihadapi oleh tokoh seperti Nizham Al-Mulk dan Imam Al-Ghazali. Ancaman yang berasal dari Sekulerisme, ateisme, dan propaganda anti-Islam modern membutuhkan respons yang strategis dan berbasis nilai-nilai Islam.

Pelajaran untuk Masa Kini:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun