Mohon tunggu...
Daffa Fadiil Shafwan Ramadhan
Daffa Fadiil Shafwan Ramadhan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.

Kepriyayian bukan duniaku. Peduli apa iblis diangkat jadi mantri cacar atau diberhentikan tanpa hormat karena kecurangan? Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Krisis Demokrasi 1950-an: Warisan Kolonial atau Pilihan Politik? Inilah Alasan Demokrasi Indonesia Gagal!

11 Desember 2024   19:00 Diperbarui: 19 November 2024   05:20 28
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(Sumber gambar: IPPHOS via Kompas.id)

Kelas menengah ini banyak terlibat dalam birokrasi dan politik, tetapi tidak selalu dengan semangat nasionalisme. Sebaliknya, mereka mungkin lebih fokus pada stabilitas dan kontrol negara, yang tercermin dalam pengembangan birokrasi yang lebih besar dan kompleks serta dalam upaya untuk memelihara struktur administratif yang ada.

Kondisi demikian tersebut diperparah pada pertengahan 1950-an, di mana Sukarno mulai mendukung kembalinya Konstitusi 1945, yang sebelumnya telah diubah oleh Konstitusi Sementara 1950. Konstitusi 1945, yang awalnya diadopsi pada awal kemerdekaan, memiliki pengaruh nuansa fasisme, di mana konstitusi ini mendukung model negara integralistik yang lebih mengutamakan kolektivitas dan kesatuan daripada hak individu.

Konstitusi 1945 juga mengedepankan negara sebagai entitas yang mengutamakan kesatuan dan harmoni kolektif daripada perlindungan hak individu. Negara dipandang sebagai keluarga di bawah pengawasan Sang Bapak, dengan prioritas pada kekuasaan negara daripada hukum (machtsstaat daripada rechtsstaat). Ini menunjukkan pergeseran dari demokrasi liberal menuju bentuk pemerintahan yang lebih otoriter dan paternalistik.

Dengan kembali ke Konstitusi 1945, Sukarno dan para pemimpin politik lainnya mengadopsi model yang lebih tertutup dan konservatif, menggantikan semangat terbuka dan progresif dari periode awal kemerdekaan. Hal ini mencerminkan perubahan dari upaya awal untuk menciptakan pemerintahan yang demokratik dan inklusif menuju sistem yang lebih terpusat dan berorientasi pada kontrol.

Terjadilah pergeseran demokrasi ke arah otoriterianisme, yang dipicu oleh keputusan untuk kembali ke Konstitusi 1945, yang lebih mengutamakan negara daripada hak-hak individu. Dengan dukungan Presiden Sukarno dan pejabat politik lainnya, pemerintahan mulai mengadopsi kebijakan yang lebih otoriter. Fokus pada kesatuan nasional dan stabilitas politik menggantikan aspirasi awal untuk demokrasi dan hak-hak sipil. Hal ini tercermin dalam pengabaian proses konstitusi dan meningkatnya pengaruh kekuasaan eksekutif.

Kelas menengah sebagaimana disebutkan sebelumnya, yang banyak terlibat dalam birokrasi, berperan dalam mendukung dan menegakkan perubahan otoriter ini. Mereka mungkin merasa bahwa struktur otoriter yang lebih stabil akan lebih menguntungkan bagi kepentingan mereka dan memberikan kontrol yang lebih besar dalam menghadapi ketidakpastian politik.

Pergeseran ke arah otoriter ini mengarah pada krisis demokrasi dan penurunan hak-hak kewarganegaraan. Dengan meningkatnya kontrol negara dan penurunan ruang bagi partisipasi politik yang inklusif, hak-hak individu dan prinsip-prinsip demokrasi semakin terabaikan.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun