Musalanya ada di lantai atas. 20 menit lagi kita bertemu di sini ya. Sambil menunggu teman-teman salat, saya mau berkeliling di sekitar sini sebentar.
Â
Kalimat itu diucapkan salah satu teman kantor, saat saya dan beberapa rekan kerja berkunjung dari Batam, Kepulauan Riau, ke Singapura untuk berjalan-jalan.
Meski sudah berlalu lebih dari satu dasawarsa dan saya pun sudah tidak lagi bekerja di kantor tersebut, saya masih ingat ucapan itu dengan jelas karena begitu terkesan dengan sikap si teman kantor.
Teman kantor saya itu keturunan Tionghoa, dan ia beragama Kristen. Namun, meski kami berbeda agama, ia begitu memperhatikan kami, empat orang temannya yang semua beragama Islam.
Saat berjalan-jalan di Singapura itu, ia selalu sigap mencari masjid atau musala terdekat setiap kali waktu salat tiba. Ia bahkan tidak segan bertanya ke orang-orang sekitar mewakili kami.
Teman saya itu mungkin merasa bertanggung jawab. Diantara kami berempat, dialah yang cukup baik mengenal Singapura. Dia kerap pergi-pulang Batam-Singapura-Batam. Sementara kami berempat, waktu itu baru pertama kali berkunjung ke Singapura.
Toleransi Beragama Warga Batam Sangat Tinggi
Toleransi beragama warga Batam memang sangat tinggi. Belakangan saya tahu, teman yang diceritakan di atas, bukan satu-satunya warga Batam  yang peduli pemeluk agama lain bisa melaksanakan ibadah dengan baik sesuai ajaran agamanya.
Ada lumayan banyak orang yang seperti itu.