Bu Nurdiasih menyerahkan sarung yang menjadi polemik itu kepada Annisa.
"Terimakasih, Bu," ucap Annisa masih dengan suara terisak.
"Namun, minta tolong jangan kamu pakai keluar dari kamar kost. Kalau pun kamu cuci, minta tolong dijemur di dalam kamar kostan saja. Jangan sampai Ayana tahu, kalau sarung ini masih ada. Nanti menjadi polemik lagi," ujar Bu Nurdiasih panjang lebar.
"Baik, Bu."
Setelah itu Annisa meninggalkan Bu Nurdiasih sambil membawa kain sarung yang dibungkus rapi dengan sehelai koran.
***
Bu Nurdiasih bernapas lega. Ia sangat senang dapat menyelesaikan permasalahan itu dengan baik. Ia sangat yakin sarung tersebut telah kembali ke pemilik aslinya, Annisa. Ia mendapat ide menyelesaikan persengketaan sarung itu dari kisah Nabi Sulaiman. Saat beliau berhasil menyelesaikan perebutan seorang bayi oleh dua orang ibu.
Dahulu kala ada dua orang ibu yang membawa bayi mereka ke ladang. Saat kedua ibu itu asik bekerja, salah satu bayi yang sama-sama diletakan di atas batu besar, dimakan oleh serigala. Sehingga, hanya tersisa satu bayi.
Saat sadar salah satu bayi telah hilang dimakan serigala, dua orang ibu itu bertikai. Mereka memperebutkan bayi yang masih hidup. Mereka saling berargumen bahwa bayi yang masih hidup itu adalah bayi mereka. Tidak ada yang mau mengalah. Anyway, Â biar tidak bingung, sebut saja Ibu A dan Ibu B ya.
Akhirnya karena perebutan semakin sengit, mereka berdua mendatangi Nabi Daud untuk meminta bantuan menyelesaikan permasalahan tersebut. Kedua ibu tersebut menyampaikan argumen masing-masing. Namun, Si Ibu A dapat menyampaikan argumen yang lebih baik. Akhirnya Nabi Daud memutuskan, bayi tersebut diberikan ke Ibu A.
Namun ternyata, meski bayi tersebut telah diputuskan diberikan ke Ibu A, Si Ibu B tetap tidak terima. Ia terus menyampaikan argumen. Akhirnya agar permasalahan tidak berlarut-larut, kedua ibu itu mendatangi Nabi Sulaiman untuk menyelesaikan polemik yang sama.