Mohon tunggu...
Cucu Sintawati
Cucu Sintawati Mohon Tunggu... Mahasiswa - Aktif

Saya mahasiswa prodi PAI

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pernikahan Dini

27 April 2022   09:58 Diperbarui: 27 April 2022   10:05 82
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Assalamualaikum, always happy, semangat, sehat. Amiinn ya.

Ku tulis rangakaian kata dan susunan kalimat ini bukan karena aku merasa paling wow dalam mengambil pilihan. Tapi aku hanya ingin menuangkan sebuah angan-angan yang selama ini tak bisa ku katakan kepada kamu, kepada kalian, kepada mereka. Tentang dia, tentang temanku, tentang saudaraku.  Apakah kalian pernah mendengar tentang sebuah pernikahan di usia yang bisa dikatakan belia. Itulah yang ingin ku ceritakan, sebuah pernikahan yang terjadi pada anak-anak yang menurutku belum matang untuk sebuah pernikahan.

Aku adalah seorang perempuan yang lahir di daerah yang biasa kalian sebut 'Kota Santri' tapi aku bukan berasal dari kota itu namun dari desa kecil di kota itu. Yang ingin ku ceritakan adalah sebuah kebiasaan yang mungkin sudah menjadi tradisi, aku juga tidak tahu.

Pernikahan dini, mungkin tidak asing lagi bagi kita mendengar kata itu apalagi bagi anak desa sepertiku. Namun bagi kalian yang tinggal di kota mungkin sedikit tabu. Aku menulis ini bukan berarti aku menyalahi atas keputusan para orang tua yang memilih menikahkan anaknya di usia yang menurutku belum pas untuk sebuah pernikahan yang nantinya mereka akan menjalani rumah tangga yang tidaklah mudah. Aku berbicara sebagai teman, aku berbicara sebagai saudara, karena teman dan saudaraku juga mengalami hal demikian.

Tahun 2019 aku dikejutkan yang saat itu aku baru pulang dari kota Cianjur untuk menempuh pendidikan menengah atas, dan aku pulang karena pada saat itu pandemi mulai masuk ke Indonesia dan belajar menjadi online di rumah masing-masing. Saat itu aku begitu terkejut, bagaimana tidak, temanku yang tak akan ku sebutkan namanya. Dia adalah adik kelasku ketika SMP usianya tiga tahun di bawahku, dulu kami selalu berangkat dan pulang bersama. 

Aku tahu dia karena rumah kami juga berdekatan. Yang aku tahu dia adalah gadis polos yang lugu. Usianya mungkin baru 13 atau 14 tahun tapi saat itu ibuku bilang bahwa di akan menikah. Aku terkejut, karena, ayolah menurutku dia masih kecil, perjalannya masih panjang, kesempatan untuk menggapai cita-citanya juga masih besar. Tidak harus SMA atau kuliah kan untuk sebuah pendidikan. Setidaknya biarkanlah dia untuk menempuh pendidikan agama di pesantren. 

Orang-orang bilang, dia memang menikah dengan laki-laki yang di sukainya, tapi saat itu dia dia sendiri bilang  belum siap menikah, tapi orangtuanya yang menyuruhnya. Why? Kenapa kalian harus menyuruh anak kalian menikah di usianya yang masih muda? Tidakkah kalian menginginkan masa depan cemerlang untuknya?. Dan apakah kalian bisa menjamin bahwa pernikahan itu akan menjadi kebahagiaan untuk anak kalian? Bagaimana kalau sesungguhnya anak kalian masih ingin menikmati masa remajanya, masih ingin sekolah, masih ingin mesantren, tapi tak berani bilang karena takut kalian marah sehingga menerima perjodohan yang kalian lakukan.

Usia 13, 14, 15 menurutku belum lah pas untuk menikah, memang ada yang bahagia tapi tak sedikit juga yang tak bahagia dan berujung gagal.  Aku bingung mengapa para orang tua di daerahku lebih memilih menikahkan mereka. Jika melanjutkan sekolah sangatlah berat karena biayanya yang tidak kecil, mengapa tidak membiarkan saja mereka menempuh pendidikan pesantren?. 

Pernikahan dan rumah tangga itu tidak mudah, kenapa aku mengatakan ini? Bukankah aku belum mengalaminya? Iya memang. Tapi aku mendengar sebuah keluhan dari temanku. Bahwa awalnya mereka mengira menikah itu menyenangkan yang akan membawa kita pada sebuah kebahagiaan bersama orang yang kita cintai. 

Tapi itu hanya  katanya, hanya kelihatannya, yang sebenarnya ketika kita sudah menikah maka mental dan fisik kita harus benar-benar siap, karena itulah kematangan dalam usia sangat penting. Agar ketika menghadapi permasalahan dalam rumah tangga pun bisa bijak dalam menyelesaikannya.

Menikah itu memang salah satu ibadah, tapi jika menikah di usia dini, apa itu dibenarkan? Orang-orang sering bilang "Daripada hamil di luar nikah, mending menikah kan". Memang, tapi apa itu satu-satunya alasan?. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun