Sebagian besar guru kecil di desa memiliki kredit di bank. Ini fakta yang tak dapat di sangkal. Bahkan opini umum mengatakan guru identik dengan kredit. Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â
Bukan rana saya untuk melarang atau mendukung, tetapi point yang mau saya tekankan adalah, kita perlu bijak agar tidak menyulitkan ekonomi keluarga juga tidak berimbas pada kinerja kerja.
Memang, kredit di bank adalah hak dari setiap guru, tetapi bila guru salah dalam mengambil keputusan, sudah pasti mengganggu stabilitas keuangan dalam keluarga dan kinerja kerja.
Sebagai bendahara di Yayasan Pendidikan, juga sebagai anak guru, saya memiliki pengalaman cukup dalam kaitan dengan point ini.
Ada beberapa analisa.
1. Membuat perhitungan yang matang.
Para guru kadang tidak membuat perhitungan yang matang tentang pemasukan dan pengeluaran yang di terima.
Hal yang perlu diperhatikan adalah, pemasukan dan pengeluaran. Minimal ada keseimbangan antara pengeluaran dan pemasukan. Amannya, pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran.
Jika akhir bulan ditemukan bahwa pengeluaran lebih besar, maka perlulah bijak untuk memutuskan. Dahulukan yang lenih penting, atau hemat, atau mencari usaha tambahan agar seimbang.
2. Belanja apa yang dibutuhkan.
Sering orang mengatakan, belanja apa yang dibutuhkan dan bukan yang diinginkan. Jangan sampai alokasi dana untuk memenuhi keinginan lebih besar daripada yang dibutuhkan.
Sering kita terpancing dengan gaya hidup dan lingkungan di sekitar kita. Tidak mampu tetapi mau samakan dengan orang lain yang sudah mapan. Lebih baik terlihat miskin ketimbang pura-pura kaya padahal melarat.
3. Biasakan diri untuk menabung.
Sering kita tidak mempertimbangkan kebutuhan yang sifatnya mendesak. Padahal bisa terjadi kapan saja, misalnya sakit, kematian, dll.
Jangan sampai kebutuhan mendesak membuat kita salah dalam bertindak. Biasanya berhadapan dengan situasi demikian, kredit menjadi alternatif, tanpa perhitungan yang matang.